Anak Sering Emosi dan Lakukan Hal Negatif? Psikolog Ungkap Peran Keluarga yang Selama Ini Diabaikan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena meningkatnya keterlibatan anak dalam tindakan kriminal kembali menjadi sorotan. Psikolog anak dan keluarga, Sani B. Hermawan, mengungkapkan bahwa salah satu akar persoalan terletak pada kurangnya kedekatan antara orang tua dan anak, yang berdampak pada lemahnya pondasi nilai dan kontrol emosi anak sejak dini.
Dilansir dari Antara, Senin (21/7), Sani yang merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, menjelaskan bahwa anak-anak pada dasarnya sedang berada dalam fase belajar, bukan hanya dari sekolah, tapi terutama dari lingkungan terdekat mereka, yakni keluarga.
"Sebenarnya anak itu sedang belajar dari apa yang dia lihat, ketahui, tonton. Kemudian belajar dari nilai dan arahan orang tua," jelasnya.
Namun, banyak anak yang akhirnya menyerap lebih banyak nilai dari lingkungan luar karena tidak mendapatkan cukup interaksi dan nilai moral dari keluarganya sendiri. Kegiatan bersama yang minim, komunikasi yang kurang terbuka, serta tidak adanya ruang berbagi membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh tontonan negatif atau pergaulan yang salah.
"Kalau nilai dari keluarga tidak kuat, anak jadi mudah menyerap nilai dari lingkungan luar yang mungkin menyimpang. Ini bisa jadi jalan awal mereka terjerumus ke tindakan kriminal," ujarnya.
Lebih lanjut, Sani mengungkapkan bahwa kegagalan dalam mengelola emosi dan keinginan juga menjadi salah satu pemicu anak melakukan kekerasan atau tindakan kriminal. Ketika seorang anak tidak tahu cara mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dan tidak bisa mengatur emosinya, ia bisa memilih jalan pintas yang salah, mulai dari pencurian hingga kekerasan.
"Anak-anak yang tidak mendapat cukup nilai dari keluarga juga kesulitan mengontrol emosi. Keinginannya besar, tapi tidak tahu cara yang benar untuk mencapainya. Saat gagal, bisa saja dia memilih jalur kekerasan atau kriminal," tambahnya.
Sani menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam mencegah anak terjerumus. Pendekatan spiritual, komunikasi terbuka, serta keterlibatan orang tua dalam kehidupan sosial anak harus menjadi bagian dari proses pendidikan di rumah.
"Orang tua harus terlibat. Jangan biarkan anak belajar sendiri dari lingkungan. Bangun komunikasi, pahami dunia mereka, dan dekatilah dari hati ke hati," tegas Sani.
Ia juga menyarankan agar orang tua bekerja sama dengan guru dan sekolah untuk memantau perubahan perilaku anak dan membangun lingkungan yang mendukung perkembangan psikologis dan moral anak.
"Kalau kita tahu apa yang terjadi pada anak dan bisa memahami mereka, mudah-mudahan mereka tidak sampai terjerumus ke hal-hal yang membahayakan masa depannya," tutup Sani.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!