Psikolog Ini Dapat Pasien Stres Bukan karena Cinta atau Kerja, tapi karena Negara! Tren Baru?

Psikolog Ini Dapat Pasien Stres Bukan karena Cinta atau Kerja, tapi karena Negara! Tren Baru?
- (Dok. Tangkapan Layar Instagram).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Media sosial Instagram belakangan diramaikan oleh cerita tak biasa dari seorang psikolog klinis.

Mufliha Fahmi, yang akrab disapa Lya, membagikan pengalamannya menangani pasien yang datang ke ruang konseling bukan karena masalah pribadi, melainkan karena stres memikirkan kondisi negara.

Cerita itu diunggah Lya pada Selasa (16/12/2025) dan langsung menyedot perhatian warganet. Hingga Kamis (18/12/2025), unggahan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 219 ribu likes dan ribuan komentar. Banyak orang merasa ceritanya terlalu dekat dengan apa yang mereka rasakan belakangan ini.

Dalam unggahannya, Lya mengaku baru pertama kali mengalami situasi seperti itu selama 7,5 tahun berkarier sebagai psikolog. Dua klien datang berturut-turut dengan keluhan yang sama-sama berakar pada persoalan negara, bukan konflik personal, relasi, atau pekerjaan. Lya sendiri berpraktik sebagai psikolog klinis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Kepada Kompas.com, Lya menjelaskan bahwa kedua pasien tersebut sebenarnya hanya ingin mengeluarkan unek-unek. Setelah bercerita, mereka merasa sedikit lebih lega. Namun, ia mengaku tak menyangka narasi "menderita sebagai WNI" yang sering muncul di media sosial ternyata benar-benar masuk ke ruang konseling.

Keluhan kedua pasien itu pun berbeda. Pasien pertama mengungkapkan kegelisahan mendalam soal kerusakan lingkungan di Indonesia. Ia merasa cemas dan tak mampu membayangkan masa depan anak-anak jika kondisi lingkungan terus memburuk. Kecemasan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap berbagai bencana alam, termasuk banjir bandang besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Sementara itu, pasien kedua datang dengan emosi yang lebih meledak. Ia merasa stres melihat penanganan banjir di Sumatera yang dinilai lamban, ditambah komentar sejumlah pejabat yang dianggap tidak empatik. Rasa marah bercampur putus asa muncul ketika melihat banyak warga terisolasi dan tidak segera mendapatkan pertolongan.

Lya mengaku emosinya ikut terkuras menghadapi pasien yang datang dengan tangisan dan kemarahan akibat memikirkan kondisi negara. Ia menilai penderitaan semacam ini bukan sekadar persoalan individu. Menurutnya, penderitaan kolektif harus ditangani secara kolektif pula, karena tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan personal di ruang konseling.

Ia bahkan berujar bahwa kemarahan terhadap negara tidak akan selesai hanya dengan curhat ke psikolog. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk saling bertemu, terhubung, dan saling mendengarkan. Dengan begitu, orang-orang bisa menyadari bahwa mereka tidak sendirian merasakan hal serupa.

Lya menekankan pentingnya solidaritas dalam menghadapi rasa tidak berdaya dan putus asa terhadap kondisi sosial dan politik yang tidak ideal. Perasaan tersebut, menurutnya, tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi sikap meremehkan diri sendiri. Sebaliknya, setiap individu diajak untuk tetap melakukan hal-hal bermakna, sekecil apa pun kontribusinya.

Baginya, setiap suara memiliki arti. Sekecil dan selirih apa pun, tetap penting. Lya juga mengingatkan bahwa setiap orang yang hidup di Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjaga dan menyelamatkan negara. Karena itu, ia mengajak siapa pun yang merasa lelah secara mental untuk mencari teman, membangun koneksi, dan tidak memikul semuanya sendirian.

Cerita ini bukan hanya membuka mata soal kesehatan mental, tetapi juga menjadi potret kegelisahan kolektif yang kini semakin nyata di tengah masyarakat.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE