Penjelasan Ending The Great Flood: Plot Twist Gila Identitas Anna dan Jain yang Ternyata Bukan Manusia!

Penjelasan Ending The Great Flood: Plot Twist Gila Identitas Anna dan Jain yang Ternyata Bukan Manusia!
- (Dok. Netflix).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Film terbaru Netflix yang berjudul The Great Flood bener-bener lagi jadi bahan omongan netizen di mana-mana sejak rilis hari Jumat (19/12) kemarin. Karya sutradara Kim Byung Woo ini sukses bikin penonton terpecah, ada yang kasih jempol karena ceritanya yang mind-blowing, tapi banyak juga yang garuk-garuk kepala karena bingung sama alur ceritanya. Dibintangi sama aktris top Kim Da Mi dan aktor senior Park Hae Soo, film ini awalnya dikira cuma film survival biasa tentang bencana alam. Banyak yang berekspektasi kalau ceritanya cuma fokus ke perjuangan seorang ibu dan anak buat selamat dari kiamat banjir akibat asteroid. Tapi ternyata, ekspektasi itu salah besar, Gen. Film ini punya lapisan cerita yang jauh lebih dalam dan berat karena menyentuh isu teknologi AI sampai penciptaan manusia buatan yang bikin kita harus mikir keras sepanjang nonton.

Kalau kamu nonton menit-menit awal, film ini emang dibuka dengan scene normal antara Anna dan anaknya, Jain, di apartemen mereka. Tiba-tiba saja, air mulai masuk dan dunia digambarkan kiamat karena es di Antartika mencair total akibat hantaman asteroid. Namun, masuk ke pertengahan film, barulah plot twist gila mulai terungkap. Ternyata, banjir dahsyat yang kalian lihat itu bukanlah bencana alam sungguhan yang terjadi di dunia nyata, melainkan sebuah simulasi eksperimen tingkat tinggi yang dijalankan oleh Isabela Lab.

Fakta mengejutkannya adalah Jain sebenarnya bukan anak manusia biasa, melainkan salah satu produk manusia buatan hasil ciptaan laboratorium tersebut. Masalahnya, para ilmuwan di sana masih mentok dalam urusan menanamkan emosi murni ke dalam robot atau manusia sintetis ini. Nah, Anna adalah sosok peneliti yang bertanggung jawab buat proyek pengembangan emosi tersebut. Dia punya ambisi buat menciptakan emosi cinta yang tulus dan pengorbanan tanpa batas, yang menurutnya paling pas digambarkan lewat hubungan ibu dan anak.

Kisah di film ini makin sedih saat terungkap kalau Anna yang asli sebenarnya sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di luar angkasa. Sebelum wafat, dia minta emosinya diekstraksi ke dalam sistem simulasi. Jadi, Anna yang kita lihat berjuang di dalam banjir itu adalah versi simulasi dari emosi Anna yang asli. Dia diprogram buat mengulang kejadian banjir itu berkali-kali sampai berhasil menemukan Jain. Nggak main-main, Anna sudah mengulang simulasi itu lebih dari 21 ribu kali hanya demi menyelamatkan anaknya.

Uniknya, kalau Anna nggak ingat apa-apa soal pengulangan simulasi itu, si kecil Jain justru ingat semuanya. Jain berusaha kasih kode rahasia ke ibunya soal di mana dia bersembunyi. Saat Anna akhirnya berhasil nemuin Jain, itu jadi tanda kalau proyek emosi tersebut sukses besar karena rasa sayang ibu ke anak berhasil terbentuk secara natural.

Di bagian akhir atau ending, kita diperlihatkan adegan Anna dan Jain kembali ke bumi sebagai tanda dimulainya kehidupan baru. Tapi ingat ya Gen, mereka berdua di situ adalah manusia sintetis dengan emosi yang sudah sempurna, bukan manusia daging dan darah seperti kita. Meskipun dapet rating yang lumayan rendah di IMDb yaitu sekitar 5,4 dari 10 karena alurnya yang dianggap rumit, film ini tetap worth it banget buat ditonton kalau kamu suka cerita yang menyentuh sisi emosional dan teknologi masa depan.

Gimana menurut kamu soal nasib Anna dan Jain di dunia baru tersebut?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE