Menteri Afrika Selatan Terseret Skandal Ujaran Rasis, Netizen Bongkar Cuitan Lama

Menteri Afrika Selatan Terseret Skandal Ujaran Rasis, Netizen Bongkar Cuitan Lama
- (Dok. Polity.org).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Gayton McKenzie, Menteri Olahraga, Seni, dan Budaya Afrika Selatan, kini jadi sorotan publik setelah unggahan lamanya di media sosial kembali mencuat. Human Rights Commission (SAHRC) tengah menginvestigasi McKenzie atas penggunaan kata bernuansa rasis yang dianggap sebagai salah satu penghinaan paling ofensif dalam sejarah negeri itu.

McKenzie, seorang politisi populis anti-imigran dari komunitas Coloured, diberi tenggat waktu untuk meminta maaf secara resmi, mengikuti pelatihan sensivitas, menghapus postingan lama, dan memberikan donasi ke lembaga amal. Namun, hingga berita ini beredar, unggahan tersebut masih terlihat di platform X.

Kasus ini bermula setelah sebuah podcast bernama Open Chats menyinggung komunitas Coloured dengan komentar menyinggung soal incest. Dari sana, warganet mulai menelusuri rekam jejak McKenzie dan menemukan cuitan periode 2011-2017, di mana ia menggunakan istilah rasis "kaffir" meski tidak ditujukan kepada individu tertentu.

McKenzie mencoba meredam kritik lewat postingan 11 Agustus lalu. Ia mengaku menyesal dan menyebut dirinya saat itu "hanya troll yang bodoh". "Saya menulis hal-hal yang tidak sensitif dan menyakitkan. Saya menyesal dan siap menjalani investigasi," ujarnya. Meski begitu, keberadaan cuitan lama yang masih online dinilai tetap menimbulkan luka sosial.

Komisioner Anti-Rasisme SAHRC, Tshepo Madlingozi, menegaskan bahwa penggunaan kata tersebut sudah dinyatakan melanggar hukum. "Kata itu tak bisa diucapkan. Pengadilan konstitusi telah jelas: ini salah satu slur paling ofensif yang ada," katanya di televisi lokal.

Isu ini semakin kompleks karena menyentuh sejarah panjang apartheid. Pada masa rezim kulit putih berkuasa, masyarakat dipisahkan dalam kategori ras: Native, Coloured, Indian, dan White. Komunitas Coloured - keturunan campuran Asia Tenggara, Khoisan, Afrika, dan Eropa - diberikan hak sedikit lebih baik dari warga kulit hitam, menciptakan ketegangan yang masih terasa hingga kini.

Bagi peneliti identitas, kasus McKenzie mencerminkan luka sosial yang belum sembuh. Tessa Dooms, penulis buku Coloured, menyebut bahwa penggunaan kata rasis dari figur publik Coloured akan selalu dikaitkan dengan tuduhan anti-Blackness. Sementara itu, Jamil Khan dari Johannesburg Institute for Advanced Study menekankan bahwa strategi "divide and rule" apartheid masih meninggalkan jurang antar-komunitas.

Meski McKenzie bersikeras dirinya bukan rasis dan menyebut "kami juga korban", publik menilai kasus ini lebih dari sekadar unggahan lama. Ini adalah pengingat bahwa Afrika Selatan, meski sudah puluhan tahun meninggalkan apartheid, masih berjuang melawan warisan diskriminasi yang membekas hingga hari ini.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE