Wabah Difteri Makin Parah di Somalia, Anak-Anak Jadi Korban Terbesar
JAKARTA, GENVOICE.ID - Somalia tengah menghadapi lonjakan kasus difteri yang mengkhawatirkan. Penyakit bakteri berbahaya ini sangat menular dan mematikan, terutama bagi anak-anak, namun sebenarnya bisa dicegah lewat vaksin. Sayangnya, kesenjangan imunisasi dan kondisi hidup yang buruk membuat kasus terus meningkat drastis.
Direktur Rumah Sakit Umum Demartino di Mogadishu, Abdulrazaq Yusuf Ahmed, mengungkapkan peningkatan tajam pasien difteri. "Tahun 2024 kami mencatat 49 pasien. Tapi hanya dalam empat bulan pertama 2025, kami sudah menerima 497 kasus," ujarnya. Jumlah kematian pun melonjak dari 13 menjadi 42 orang dalam laporan terbaru rumah sakit tersebut, yang menyebut wabah difteri sebagai "ancaman kesehatan masyarakat paling mendesak dan berbahaya".
Kementerian Kesehatan Somalia melaporkan total 1.616 kasus dan 87 kematian akibat difteri sejak awal tahun. Hampir seluruh pasien, lebih dari 97%, adalah anak-anak di bawah 15 tahun.
Frida Athanassiadis, koordinator medis Médecins Sans Frontières (MSF) di Somalia, mengatakan bahwa kombinasi rendahnya cakupan vaksinasi, keraguan masyarakat terhadap vaksin, serta kondisi hidup yang buruk menjadi pemicu utama penyebaran. "Beberapa pusat kesehatan bahkan tidak memiliki cukup sumber daya untuk menangani lonjakan pasien," ungkapnya.
Awalnya, tim MSF memiliki stok darurat antitoksin dalam jumlah terbatas, namun kini sudah habis. Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpaksa mendistribusikan sisa stok yang tersedia berdasarkan kebutuhan darurat.
Krisis ini juga diperburuk oleh pemangkasan bantuan internasional. Save the Children memperingatkan bahwa sejak April 2025, kasus penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin - termasuk campak, batuk rejan, kolera, dan infeksi saluran pernapasan - telah melonjak dua kali lipat, dari sekitar 22.600 menjadi lebih dari 46.000. Sekitar 60% di antaranya menyerang anak di bawah lima tahun. "Pemotongan dana bantuan membuat sistem kesehatan kewalahan dan gagal menjalankan imunisasi rutin serta kampanye vaksinasi tambahan yang penting untuk menghentikan wabah," kata organisasi tersebut.
Di ibu kota Mogadishu, warga merasakan langsung dampak wabah. "Banyak anak di lingkungan saya sakit, sebagian bahkan harus dirawat di rumah sakit," kata Abdiwahid Ali, seorang penduduk lokal. Anab Hassan, seorang pedagang, menambahkan: "Seorang teman saya kehilangan putrinya yang baru berusia lima tahun karena difteri. Hampir setiap hari kami mendengar kabar anak-anak sakit dan batuk."
Kondisi ini membuat Somalia kembali diingatkan betapa pentingnya vaksinasi, di tengah keterbatasan sumber daya dan tantangan kemanusiaan yang terus membayangi negara tersebut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!