Rencana Perdamaian Rusia-Ukraina Versi Trump Bikin Heboh, Ukraina Tak Diajak Bicara Sama Sekali
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, situasi perang Rusia-Ukraina tiba-tiba kembali jadi perhatian dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui sebuah rencana perdamaian terbaru. Bukan sembarang rencana, dokumen ini berisi 28 poin yang diklaim bisa menghentikan konflik berkepanjangan antara Moskow dan Kiev. Tapi yang bikin heboh, Ukraina ternyata tidak diajak berunding saat rencana itu disusun. Kondisi ini langsung memicu banyak pertanyaan, terutama tentang seberapa serius dan realistis proposal perdamaian tersebut.
Seorang pejabat senior AS menyebut bahwa rencana itu bertujuan memberikan jaminan keamanan bagi kedua negara yang bertikai. Menurutnya, isi rencana tersebut mencakup berbagai hal yang dibutuhkan Ukraina untuk mencapai perdamaian jangka panjang. Meski begitu, pembahasannya disebut masih berjalan di antara pihak-pihak besar yang terlibat. Masalahnya, Ukraina justru baru diberi informasi seputar garis besarnya tanpa penjelasan detail. Mereka bahkan tidak dimintai pendapat sama sekali.
Di sisi lain, ada delegasi AS yang dipimpin Menteri Angkatan Darat Daniel Driscoll berkunjung ke Ukraina dengan misi ganda. Yang pertama membahas urusan strategi dan teknologi militer, dan yang kedua mendukung upaya "menghidupkan kembali" proses perdamaian. Meski begitu, Rusia langsung membantah adanya rencana untuk bertemu Driscoll. Juru bicara Kremlin menyampaikan bahwa tidak ada agenda semacam itu, sebuah sinyal bahwa komunikasi antarpihak belum menunjukkan kemajuan berarti.
Perlu Gen tahu, pergerakan diplomasi ini muncul setelah pertemuan Presiden Trump dan Presiden Vladimir Putin di Alaska pada Agustus lalu. Namun hingga sekarang belum terlihat langkah konkret menuju kesepakatan. Bahkan, beberapa sumber dari lingkaran pemerintah Ukraina dan pejabat Eropa menegaskan bahwa Kiev sama sekali tidak ikut menyusun dokumen tersebut. Mereka hanya diberi gambaran besarnya, tanpa proses konsultasi.
Pemerintah Ukraina juga menilai waktu munculnya rencana ini sangat mencurigakan. Usulan datang ketika pemerintahan Volodymyr Zelenskyy sedang diterpa skandal korupsi besar. Menurut mereka, Rusia mungkin sengaja memanfaatkan kondisi itu agar bisa mendorong agenda politiknya ketika Kiev dianggap sedang lemah. Dari sisi Rusia sendiri, mereka mengaku belum menerima informasi resmi apa pun dari AS terkait rencana perdamaian itu.
Laporan lain menyebut bahwa proposal ini terinspirasi dari keberhasilan Trump di konflik Gaza sebelumnya. Bahkan, utusan khusus AS dan utusan Rusia dilaporkan sempat bertemu secara tertutup untuk membahas kerangka perjanjian. Tapi tetap saja, tanpa keterlibatan Ukraina, banyak pihak mempertanyakan legitimasi dan masa depan dari rencana tersebut.
Dengan semua dinamika ini, Gen, jelas bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Selama negara yang jadi korban perang tidak diajak bicara, sulit membayangkan rencana ini bisa benar-benar menyelesaikan konflik.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!