Trump Manfaatkan Kerusuhan Prancis untuk Serang Demokrat Jelang Pemilu Sela AS
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan kerusuhan di Prancis sebagai bahan kampanye untuk mempertahankan dominasi Partai Republik di Kongres AS. Ia menggunakan situasi tersebut untuk menyerang Partai Demokrat dan memperingatkan pemilih tentang kemungkinan dampak politik jika Partai Republik kalah dalam pemilu sela pada 3 November 2026.
Dalam kampanye di Kansas pada Senin (19/10), Trump menyinggung gelombang demonstrasi di Prancis yang diwarnai pembakaran dan penjarahan. Ia hadir untuk mendukung Roger Marshall, senator petahana dari Partai Republik yang berupaya mempertahankan kursinya.
Menurut laporan Reuters pada Selasa (20/10), Trump menggambarkan kerusuhan di Prancis sebagai gambaran situasi yang berpotensi terjadi di AS apabila Partai Republik tidak memenangkan pemilu sela. Namun, ia tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Prancis mengalami gelombang kerusuhan di tengah meningkatnya kemarahan publik terhadap biaya hidup, memburuknya layanan publik, dan kondisi sekolah yang dinilai tidak memadai. Aksi protes tersebut berkembang menjadi kekerasan, termasuk pembakaran dan penjarahan.
Trump menggunakan situasi itu untuk menyampaikan pesan kampanye bernada keras terhadap Partai Demokrat. Dalam pidatonya di Kansas, ia juga melontarkan retorika anti-imigran dan anti-Muslim yang selama ini menjadi bagian dari strategi politiknya.
"Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi di negara ini," kata Trump, merujuk pada kerusuhan di Prancis.
Ia kemudian menuding Partai Demokrat sebagai pihak yang menginginkan kehancuran serupa terjadi di AS. Trump menggunakan istilah "Dumocrat" untuk mengejek partai oposisi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan ketika Trump menghadapi tekanan politik akibat kekecewaan sebagian pemilih terhadap perang Iran dan kenaikan harga barang serta jasa. Kondisi tersebut turut menyulitkan Partai Republik dalam mempertahankan dukungan menjelang pemilu sela.
Meski Kansas selama ini menjadi basis kuat Partai Republik, persaingan tahun ini memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi partai tersebut. Para kandidat Republik berada dalam posisi defensif ketika berusaha mempertahankan kursi di tengah persoalan ekonomi dan kebijakan pemerintahan Trump.
Trump pun menjalani rangkaian kampanye intensif selama 32 hari dengan mengunjungi sejumlah wilayah yang sebelumnya dimenangkannya dengan mudah. Langkah itu dilakukan untuk membantu Partai Republik mempertahankan kendali atas DPR dan Senat AS.
Di sisi lain, retorika Trump terhadap imigran dan kelompok minoritas telah lama menuai kritik dari pegiat hak asasi manusia dan kelompok hak sipil. Mereka menilai pernyataan yang menargetkan kelompok tertentu berisiko memperkuat sikap diskriminatif terhadap komunitas yang terpinggirkan.
Pemilu sela AS pada 3 November 2026 menjadi ujian bagi Partai Republik untuk mempertahankan kekuasaan di Kongres. Dengan memanfaatkan kerusuhan di Prancis sebagai materi kampanye, Trump berusaha mengalihkan perhatian pemilih pada isu keamanan, imigrasi, dan risiko politik apabila Partai Demokrat memperoleh kemenangan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!