Prabowo Singgung Rp6.000 Triliun Kekayaan RI Mengalir ke Luar Negeri, Sebut Gaji Guru Jadi Kecil
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Prabowo Subianto menyinggung besarnya kekayaan Indonesia dari sektor sumber daya alam yang disebut lebih banyak mengalir ke luar negeri selama puluhan tahun terakhir.
Dalam pidatonya di sidang paripurna pada Rabu (20/5), Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya memperoleh keuntungan besar dari ekspor sumber daya alam. Namun, sebagian besar dana tersebut disebut tidak dinikmati di dalam negeri.
Menurut Prabowo, selama 22 tahun terakhir total keuntungan dari sektor tersebut mencapai US$ 436 miliar. Akan tetapi, sekitar US$ 343 miliar atau setara Rp6.071 triliun justru keluar dari Indonesia.
"Apa yang terjadi, keuntungan kita yang selama 22 tahun adalah US$ 436 miliar, yang keluar adalah US$ 343 miliar," ujar Prabowo.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia disebut hanya menikmati sekitar US$ 93 miliar dari hasil kekayaan alam selama lebih dari dua dekade terakhir.
Prabowo menilai situasi itu berdampak langsung terhadap kemampuan negara dalam membiayai berbagai kebutuhan masyarakat. Ia menyebut keterbatasan anggaran membuat kesejahteraan sejumlah profesi penting di Indonesia masih rendah.
Menurutnya, gaji guru, aparatur penegak hukum, hingga aparatur sipil negara belum maksimal karena kapasitas fiskal negara terus tertekan.
"Ini yang selalu membuat anggaran kita tidak cukup, anggaran tidak kuat," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membahas kondisi ekonomi nasional dan pengelolaan kekayaan negara. Ia juga menekankan pentingnya menjaga hasil sumber daya alam agar lebih banyak dinikmati masyarakat Indonesia sendiri.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Prabowo memang kerap menyoroti isu kebocoran ekonomi nasional dan aliran dana ke luar negeri. Pemerintah disebut ingin memperkuat hilirisasi industri serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri agar manfaat ekonominya lebih besar bagi masyarakat.
Selain itu, Prabowo juga menyinggung pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah situasi global yang dinilai semakin tidak menentu, termasuk tekanan nilai tukar dolar dan persoalan energi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!