Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan, Padahal Tahu Harus Segera Diselesaikan?

Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan, Padahal Tahu Harus Segera Diselesaikan?
- (Dok. freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pernah punya tugas yang sebenarnya bisa selesai dalam waktu satu jam, tetapi justru baru dikerjakan ketika deadline tinggal beberapa jam? Menariknya, orang yang suka menunda pekerjaan biasanya bukan tidak tahu bahwa tugas tersebut penting. Mereka justru sering sadar bahwa menunda akan membuat pekerjaan semakin berat.

Kebiasaan ini disebut prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah direncanakan untuk dikerjakan.

Menunda Bukan Selalu Berarti Malas

Prokrastinasi sering dianggap sama dengan kemalasan. Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Seseorang bisa saja ingin menyelesaikan pekerjaan tetapi terus menghindarinya karena merasa tugas tersebut membosankan, sulit, membuat stres, atau terasa terlalu besar untuk dimulai.

Akibatnya, otak memilih aktivitas lain yang terasa lebih mudah atau menyenangkan.

Misalnya, membuka media sosial selama beberapa menit terasa jauh lebih ringan daripada mulai mengerjakan laporan yang membutuhkan konsentrasi.

Otak Lebih Tertarik pada Kepuasan Instan

Salah satu alasan seseorang menunda adalah adanya perbedaan antara manfaat yang dirasakan sekarang dan manfaat yang baru diperoleh nanti.

Mengerjakan tugas mungkin baru memberikan kepuasan setelah selesai. Sebaliknya, menonton video, bermain game, atau membuka media sosial bisa memberikan hiburan secara langsung.

Karena itu, aktivitas dengan hadiah yang terasa lebih cepat dapat menjadi lebih menarik daripada pekerjaan yang manfaatnya masih jauh.

Tugas yang Terlalu Besar Bisa Membuat Kita Enggan Memulai

Pekerjaan yang terlihat sangat besar juga dapat memicu penundaan.

Misalnya, seseorang mendapat tugas membuat laporan sebanyak 20 halaman. Memikirkan keseluruhan pekerjaan sekaligus dapat membuat tugas terasa sangat berat.

Akhirnya, muncul keinginan untuk berkata, "Nanti saja deh."

Padahal, jika tugas tersebut dipecah menjadi bagian kecil, seperti membuat kerangka, mencari data, dan menulis satu bagian terlebih dahulu, pekerjaan bisa terasa lebih mudah dimulai.

Perfeksionisme Bisa Ikut Berperan

Menariknya, orang yang ingin menghasilkan pekerjaan sempurna juga bisa mengalami prokrastinasi.

Ketika seseorang merasa hasil pekerjaannya harus sangat bagus, proses memulai dapat terasa menakutkan.

Ada kekhawatiran bahwa hasilnya tidak sesuai harapan. Akhirnya, pekerjaan ditunda karena belum merasa siap menghasilkan sesuatu yang dianggap cukup baik.

Deadline Justru Bisa Membuat Kita Bergerak

Banyak orang merasa lebih fokus ketika deadline semakin dekat.

Ketika waktu yang tersedia semakin sedikit, rasa urgensi meningkat. Perhatian pun menjadi lebih terpusat pada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Hal ini menjelaskan kenapa seseorang yang selama beberapa hari tidak mengerjakan tugas bisa tiba-tiba sangat produktif ketika deadline tinggal beberapa jam.

Namun, kebiasaan bekerja dalam tekanan terus-menerus juga dapat membuat proses pengerjaan menjadi lebih melelahkan.

Menunda Bisa Menjadi Kebiasaan

Jika seseorang berulang kali menghindari pekerjaan yang terasa tidak menyenangkan lalu mendapatkan rasa lega setelah melakukan aktivitas lain, pola tersebut dapat terus berulang.

Misalnya:

Tugas terasa berat → ditunda → melakukan hal menyenangkan → merasa lega sementara.

Rasa lega tersebut dapat membuat otak kembali menggunakan pola yang sama ketika menghadapi tugas sulit berikutnya.

Cara Menghindari Siklus Menunda

Salah satu cara sederhana adalah tidak memikirkan seluruh pekerjaan sekaligus.

Alih-alih berkata, "Aku harus menyelesaikan laporan hari ini," coba ubah menjadi target yang lebih kecil seperti "Aku akan membuka dokumennya dan menulis bagian pertama selama 10 menit."

Memulai sering kali menjadi bagian paling sulit.

Setelah pekerjaan dimulai, seseorang bisa lebih mudah melanjutkannya karena hambatan psikologis untuk memulai sudah berkurang.

Pada akhirnya, prokrastinasi bukan sekadar persoalan malas atau tidak punya waktu. Kebiasaan menunda dapat berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi, menghadapi tugas yang sulit, dan merespons kepuasan yang bisa diperoleh secara langsung.

Itulah sebabnya kita terkadang tahu pekerjaan harus segera dilakukan, tetapi tangan justru membuka media sosial terlebih dahulu.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE