7 Tren Lifestyle yang Perlahan Ditinggalkan Gen Z di 2026

Generasi muda kini lebih memilih hidup seimbang, hemat, dan mindful dibanding mengikuti tren gaya hidup lama yang dianggap toxic.

7 Tren Lifestyle yang Perlahan Ditinggalkan Gen Z di 2026
Ilustrasi Gaya Hidup Gen Z - (Dok. freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gaya hidup generasi Z terus mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, banyak tren lama yang mulai ditinggalkan perlahan oleh anak muda.

Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute menunjukkan generasi muda kini lebih memprioritaskan keseimbangan hidup, stabilitas finansial, dan hubungan sosial yang sehat. Perubahan pola pikir tersebut juga memengaruhi cara Gen Z bekerja, bersosialisasi, hingga menggunakan media sosial.

Berikut sejumlah tren gaya hidup yang mulai ditinggalkan Gen Z beserta alasannya:

1. Hustle culture dan glorifikasi burnout

Dulu, budaya kerja tanpa henti sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Lembur setiap hari, tidur minim, hingga jadwal super sibuk sempat menjadi gaya hidup yang dibanggakan di media sosial.

Kini banyak Gen Z mulai mempertanyakan pola hidup tersebut karena dianggap merusak kesehatan mental dan kualitas hidup. Generasi muda mulai lebih menghargai work-life balance, fleksibilitas kerja, dan waktu istirahat yang cukup.

Kesuksesan tidak lagi diukur dari seberapa sibuk seseorang bekerja. Banyak anak muda kini lebih memilih hidup yang seimbang dibanding terus memaksakan diri hingga burnout.

2. Flexing dan gaya hidup konsumtif

Budaya flexing atau pamer gaya hidup mewah juga mulai ditinggalkan Gen Z. Tren memamerkan barang branded, staycation mahal, hingga belanja demi konten media sosial kini dianggap kurang relevan.

Di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, banyak Gen Z mulai menerapkan konsep frugal living. Mereka menjadi lebih selektif dalam mengatur pengeluaran dan lebih fokus pada kebutuhan dibanding validasi sosial.

Riset menunjukkan cukup banyak Gen Z kini aktif mencari promo, diskon, hingga menekan pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting. Pola hidup hemat dianggap lebih realistis untuk kondisi ekonomi saat ini.

3. Kebiasaan chronically online

Fenomena oversharing di media sosial juga mulai berkurang. Jika dulu banyak orang membagikan kehidupan sehari-hari secara real time, kini Gen Z mulai lebih menjaga privasi digital mereka.

Tren digital detox, private account, hingga dump account semakin populer di kalangan anak muda. Banyak Gen Z mulai sadar bahwa screen time berlebihan dapat memicu kecemasan, digital fatigue, hingga stres mental.

Alih-alih meninggalkan teknologi sepenuhnya, mereka mencoba membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Sebagian mulai mengurangi kebiasaan scrolling dan memperbanyak aktivitas offline.

4. Budaya hidup serba cepat

Gen Z tumbuh di era internet yang bergerak sangat cepat. Arus informasi tanpa henti membuat banyak orang merasa lelah dan sulit benar-benar beristirahat.

Karena itu, tren slow living mulai diminati oleh generasi muda. Aktivitas seperti journaling, membaca buku fisik, olahraga ringan, solo date, hingga meditasi kini dianggap membantu menjaga kesehatan mental.

Banyak anak muda juga mulai mengurangi tekanan untuk selalu mengikuti tren internet setiap saat. Mereka memilih menikmati hidup dengan ritme yang lebih tenang dan mindful.

5. Party culture mulai tergeser wellness lifestyle

Budaya party dan clubbing perlahan mulai tergeser oleh tren wellness lifestyle. Banyak Gen Z kini lebih tertarik mengikuti running club, yoga, pilates, bersepeda, hingga kegiatan self-care lainnya.

Nongkrong santai di coffee shop dengan suasana tenang juga mulai lebih diminati dibanding pesta yang terlalu ramai. Selain lebih hemat, aktivitas tersebut dianggap lebih sehat dan menenangkan.

6. Konsumsi konten pendek berlebihan

Konten singkat seperti TikTok, Reels, dan YouTube Shorts memang masih populer. Namun, banyak Gen Z mulai merasa lelah dengan pola konsumsi konten yang terlalu cepat dan repetitif.

Kini mereka mulai menikmati podcast dan video berdurasi panjang yang lebih informatif dan bermakna. Topik seperti kesehatan mental, self-development, hingga obrolan reflektif menjadi favorit karena dianggap lebih relate dengan kehidupan sehari-hari.

7. Transaksi menggunakan uang tunai

Penggunaan uang cash juga mulai ditinggalkan oleh Gen Z. Generasi muda kini lebih terbiasa menggunakan QRIS, mobile banking, dan dompet digital untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari membeli kopi, membayar transportasi, hingga split bill bersama teman kini cukup dilakukan lewat smartphone. Sistem pembayaran cashless dianggap lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup modern yang cepat dan fleksibel.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE