Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas
- (Dok. Detik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Iran kembali melontarkan peringatan keras terkait akses di Selat Hormuz. Teheran mengancam akan menutup jalur pelayaran vital tersebut jika Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ancaman ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Iran sebelumnya membuka kembali Selat Hormuz menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Situasi tersebut menandakan bahwa ketegangan di kawasan masih jauh dari mereda.

Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan optimisme terkait peluang tercapainya kesepakatan damai. Ia bahkan mengklaim bahwa Iran bersedia menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, yang menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi kedua negara.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menyerahkan persediaan uranium mereka.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa keberlanjutan akses Selat Hormuz sangat bergantung pada situasi di lapangan. Ia memperingatkan bahwa jika tekanan terhadap Iran terus berlanjut, jalur tersebut tidak akan tetap terbuka.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei. Ia menilai tindakan pencegatan kapal oleh militer AS sebagai bentuk blokade yang melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Menurutnya, setiap upaya untuk menghambat kapal yang berasal dari pelabuhan Iran akan dibalas dengan langkah tegas. Ia juga menegaskan bahwa keputusan terkait buka-tutup Selat Hormuz bukan sekadar pernyataan politik, melainkan ditentukan oleh kondisi operasional di lapangan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak mentah dan gas alam cair dunia. Karena itu, setiap ancaman penutupan akan berdampak besar terhadap stabilitas energi global.

Pernyataan terbaru dari Iran ini menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk meredakan konflik yang melibatkan sejumlah negara di wilayah tersebut.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE