Tips Menghadapi Saudara Yang Hobi Flexing, Ini Cara Respon Paling Elegan Biar Mental Tetap Aman

Tips Menghadapi Saudara Yang Hobi Flexing, Ini Cara Respon Paling Elegan Biar Mental Tetap Aman
- (Dok. Freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Momen kumpul keluarga pas Lebaran memang seharusnya jadi waktu yang paling ditunggu buat seru-seruan dan melepas rindu. Tapi jujur saja nih Gen, kadang momen silaturahmi ini malah berubah jadi ajang pamer pencapaian atau yang sering kita sebut dengan istilah flexing.

Mulai dari pamer gadget baru, outfit branded, sampai cerita soal kesuksesan karier yang nggak ada habisnya sering banget bikin suasana jadi agak gerah. Kalau nggak pinter-pinter menjaga perasaan, kita bisa saja merasa insecure atau malah kepancing buat ikutan kompetisi pamer yang nggak sehat itu.

Padahal, terjebak dalam lingkaran adu nasib materi cuma bakal bikin energi kita habis secara sia-sia. Supaya mental kamu tetap stabil dan momen Lebaran nggak berubah jadi ajang stres terselubung, penting banget buat tahu gimana caranya merespon perilaku pamer ini dengan cara yang sehat secara psikologis.

Dilansir dari Antara, menurut seorang Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina M.Psi, Psikolog, rahasia paling utama dalam menghadapi orang yang hobi pamer adalah dengan tidak terjebak untuk "mengimbangi" apa yang mereka tampilkan.

Kita nggak perlu merasa harus membuktikan diri lebih hebat hanya karena ada orang lain yang sedang pamer. Beliau menjelaskan bahwa memberikan respon yang biasa-biasa saja sudah lebih dari cukup.

"Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya," kata Phoebe kepada ANTARA pada hari Selasa.

Phoebe juga menjelaskan bahwa fenomena flexing ini biasanya muncul karena orang tersebut sebenarnya butuh validasi atau pengakuan bahwa mereka sudah berhasil. Kadang, pamer materi dilakukan cuma supaya nggak dianggap tertinggal dari anggota keluarga yang lain. Bahkan, ada juga lho yang sampai nekat menyewa barang-barang mewah demi terlihat sukses di depan orang lain, meskipun kondisi aslinya nggak seperti itu.

Hal ini biasanya dipicu oleh rasa tidak aman, tekanan sosial di lingkungan keluarga, hingga masalah harga diri yang belum stabil. Apalagi di zaman sekarang yang sangat mementingkan pencitraan, penampilan luar sering kali dianggap jauh lebih penting daripada keaslian diri.

"Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian, sehingga individu rela melakukan berbagai cara untuk memenuhi ekspektasi sosial tersebut," ujar psikolog dari Personal Growth tersebut.

Lalu, gimana caranya supaya kita nggak capek hati menghadapinya? Phoebe menyarankan agar kita tetap berpegang teguh pada nilai dan standar diri sendiri. Jangan biarkan standar sukses orang lain merusak kebahagiaan kamu.

Kalau obrolannya sudah mulai terasa melelahkan, jangan ragu buat menjaga jarak secara emosional. Menariknya, kita juga disarankan buat punya rasa empati, karena sebenarnya orang yang hobi flexing itu mungkin cuma lagi mencari cara buat merasa dihargai.

Supaya momen kumpul keluarga jadi lebih berfaedah, coba deh alihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih bermakna. Dibandingkan cuma ngobrolin barang branded, lebih baik bahas pengalaman hidup, tantangan yang pernah dihadapi, atau sekadar bernostalgia bareng.

Memberikan apresiasi yang tulus atau menanyakan kabar emosional satu sama lain bakal bikin hubungan kekeluargaan terasa lebih hangat dan suportif tanpa harus ada yang merasa tersaingi.

Gimana Gen, sudah siap mental belum buat menghadapi sesi curhat berujung flexing di Lebaran nanti?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE