Sekolah Rakyat Margaguna Tanamkan Nilai Anti-Perundungan Sejak Hari Pertama MPLS
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Margaguna, Jakarta Selatan, menjadikan penanaman perilaku anti-perundungan sebagai bagian penting dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Langkah ini sejalan dengan nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan yang menjadi dasar pembelajaran di sekolah tersebut.
Kepala SRMA 10 Jakarta Selatan, Ratu Mulyanengsih, menjelaskan bahwa sekolah mereka menampung peserta didik dari beragam latar belakang, termasuk usia yang berbeda-beda-mulai dari 15 hingga 21 tahun. Sebagian siswa bahkan merupakan remaja yang pernah putus sekolah. Dengan kondisi yang beragam ini, potensi gesekan sosial cukup tinggi, sehingga perlu pendekatan khusus untuk mencegah perundungan.
"Yang paling sulit itu biasanya soal kebiasaan seperti merokok, tapi sejak awal kami sudah tanamkan komitmen 'no bullying'," ujar Ratu, dilansir dari ANTARA News, Rabu (16/7).
Menurutnya, bibit perundungan sering kali tumbuh dari interaksi ringan yang tidak sehat, seperti candaan yang berubah menjadi ejekan atau kelompok-kelompok yang terbentuk pasca jam sekolah tanpa arah jelas. Untuk mencegah hal tersebut, pihak sekolah menerapkan strategi berbasis nilai dan aktivitas harian yang membentuk kebiasaan positif.
Salah satunya adalah program salat berjamaah yang dibarengi dengan penyampaian pesan moral. Selain itu, setiap pagi para siswa diajak mengikuti sesi bercerita (storytelling), di mana mereka bebas mengungkapkan pandangan tentang diri, mimpi, serta masa depan. Program ini diharapkan dapat membangun rasa percaya diri, empati, dan mengalihkan perhatian dari perilaku negatif.
"Kalau pikiran mereka sudah sibuk dengan hal-hal positif, maka tindakan seperti bullying tidak akan muncul," kata Ratu optimistis.
Sekolah Rakyat sendiri mengusung sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dibanding sekolah formal. Pendekatan kolaboratif dan penuh empati menjadi nilai utama. Fasilitas yang disediakan pun mendukung suasana belajar yang nyaman, mulai dari perpustakaan, studio musik, pusat kebugaran, hingga lapangan olahraga.
SRMA 10 berada di bawah naungan Pusdiklatbangprof dan berdiri di atas lahan lebih dari empat hektare. Saat ini sekolah tersebut menampung 100 siswa, terdiri dari 56 laki-laki dan 44 perempuan, dengan fasilitas asrama empat orang per kamar.
Sekolah Rakyat merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan untuk memberikan pendidikan gratis dan berkualitas kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama mereka yang tergolong dalam Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Dengan komitmen terhadap pendidikan yang bebas perundungan dan berorientasi pada nilai, SRMA 10 Margaguna menjadi contoh sekolah inklusif yang membangun masa depan pelajar Indonesia dengan pendekatan yang manusiawi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!