Sejarah Zodiak Tiongkok dan Legenda Perlombaan Hewan, Simak Alasan Kenapa Urutan Shio Dimulai dari Tikus
JAKARTA, GENVOICE.ID - Momen Tahun Baru Imlek selalu identik dengan ramalan peruntungan berdasarkan shio atau yang secara global dikenal sebagai Zodiak Tiongkok. Buat kalian yang sering melihat gambar hewan-hewan lucu di dekorasi Imlek, sebenarnya sistem klasifikasi tahunan ini punya sejarah yang sangat mendalam dan sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun.
Berbeda banget dengan zodiak Barat yang kita kenal lewat bulan kelahiran dan rasi bintang di langit, Zodiak Tiongkok ini sistemnya muter dalam siklus 12 tahunan berdasarkan kalender lunar atau bulan. Setiap tahunnya diwakili oleh satu hewan tertentu yang dipercaya bakal nurunin sifat, karakter, bahkan nasib ke orang-orang yang lahir di tahun tersebut. Makanya, nggak heran kalau setiap Imlek tiba, yang jatuh antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari, banyak orang langsung sibuk cari tahu hewan apa yang bakal jadi "pemimpin" tahun itu.
Perubahan simbol hewan ini bukan cuma sekadar hiasan kalender, tapi juga dianggap sebagai cara untuk memahami kepribadian, kecocokan hubungan, hingga prospek karier seseorang ke depannya. Sistem ini bener-bener unik karena memadukan ilmu astronomi kuno, perhitungan waktu, dan legenda rakyat yang sangat menghibur buat dibahas bareng teman atau keluarga saat kumpul Imlek, nih Gen.
Melansir dari Britannica pada Sabtu, 14 Februari 2026, sistem ini punya nama asli Sheng Xiao atau Shu Xiang dalam bahasa Tiongkok. Awalnya, konsep ini berkaitan erat dengan "12 Cabang Bumi", sebuah metode penanggalan tradisional yang sudah ada sejak zaman kuno untuk mengatur waktu dan tahun, nih Gen.
Legenda Perlombaan Besar Kaisar Giok
Kalau bicara soal asal-usulnya, ada banyak versi sejarah yang menyebutkan kalau sistem ini sudah mulai muncul sejak periode Negara-Negara Berperang, atau bahkan di zaman Dinasti Qin dan Han. Namun, yang paling seru buat diikuti adalah legenda populer tentang perlombaan hewan yang diadakan oleh Buddha atau Kaisar Giok. Dikisahkan, ada 12 hewan pertama yang harus berlomba menyeberangi sungai demi mendapatkan tempat di kalender resmi kekaisaran.
Tikus menjadi pemenang pertama berkat akal liciknya. Alih-alih berenang sendiri, dia menumpang di punggung Kerbau yang kuat. Begitu mendekati garis finish, Tikus langsung melompat turun dan mendarat lebih dulu, sehingga Kerbau harus puas di urutan kedua. Setelah mereka, muncul Harimau yang gagah, Kelinci yang gesit, dan Naga yang gagah berani. Uniknya, Naga yang harusnya bisa terbang cepat malah sampai di posisi kelima karena dia sempat berhenti untuk menolong penduduk desa yang tertimpa musibah kebakaran.
Urutan Hewan dan Nasib Kucing yang Tertinggal
Setelah Naga, ada Ular yang cerdik menyelinap di kaki Kuda supaya bisa sampai lebih dulu, diikuti oleh Kambing, Monyet, dan Ayam yang bekerja sama menyeberangi sungai. Anjing sampai di posisi kedua terakhir karena asyik bermain air dan mandi di sungai, sementara Babi menjadi yang paling bontot karena sempat berhenti buat makan dan tidur siang. Maka dari itu, urutan resminya adalah Tikus, Kerbau, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi.
Lalu, ke mana perginya Kucing? Dalam berbagai versi legenda, Kucing gagal masuk daftar karena dikhianati oleh Tikus yang nggak membangunkan dia saat lomba dimulai, atau dia tertinggal saat menyeberangi sungai. Sampai sekarang, setiap hewan ini dipercaya membawa energi yang berbeda-beda bagi kehidupan kita setiap tahunnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!