Pasar Imlek Semawis 2577 Jadi Simbol Harmoni Semarang
JAKARTA, GENVOICE.ID - Suasana Gelar Tuk Panjang Pasar Imlek Semawis 2577 di Gang Gambiran, Jumat (13/2/2026), bukan sekadar perayaan budaya.
Di hadapan warga, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa Semarang telah mencapai kematangan sosial, ketika keberagaman benar-benar menjadi nadi kehidupan kota.
Menurutnya, harmoni di Ibu Kota Jawa Tengah telah tumbuh secara alami, tanpa perlu validasi atau pujian dari luar. Ia menggambarkan Semarang seperti bunga yang terus menebar keharuman-tenang, konsisten, dan membumi dalam keseharian warganya.
Agustina menyoroti berdampingannya Pasar Semawis dengan persiapan Pasar Dugderan sebagai bukti nyata akulturasi budaya yang hidup. Baginya, keberagaman di Semarang bukan lagi slogan, melainkan "sistem operasi harian" masyarakat.
Ia menyebut berbagai komunitas-Tionghoa, Jawa, Melayu, hingga Arab Muslim di Kauman-telah lama bersisian dalam ruang sosial yang sama. Keberagaman, kata dia, hadir dalam sapaan antar tetangga, gotong royong, hingga interaksi di ruang publik.
Wali Kota juga mengaitkan stabilitas keamanan dengan produktivitas ekonomi melalui filosofi Warak Ngendok. Simbol telur (ngendok) dimaknai sebagai pesan bahwa kesejahteraan hanya bisa lahir dari situasi kota yang damai.
"Kalau bertengkar, orang tidak bisa bekerja. Kalau berkelahi, kesejahteraan tidak akan lahir. Semarang damai tujuannya agar semua bisa beraktivitas dengan tenang-yang berdagang nyaman, yang sekolah fokus. Toleransi terjaga berarti Semarang sejahtera," tegasnya.
Agustina menilai kematangan sosial Semarang kini mulai menarik perhatian internasional. Penataan kawasan cagar budaya seperti Pecinan, Kampung Melayu, dan Bustaman disebut mendapat respons positif dari Kedutaan Besar Prancis. Bahkan, terdapat rencana untuk mendorong wisatawan mancanegara menjadikan kampung tematik Semarang sebagai destinasi utama.
"Kawasan Pecinan sudah siap menjadi destinasi wisata global. Ketika budaya dirawat, ekonomi ikut bergerak. Kawasan cagar budaya hidup, generasi muda pun tumbuh dengan rasa bangga terhadap kotanya," ujarnya.
Momentum bulan ini juga dinilai menghadirkan nuansa spiritual yang unik. Bertemunya perayaan Imlek 2577, persiapan Ramadan 1447 Hijriah, serta masa pra-Paskah umat Kristiani menciptakan apa yang disebut Agustina sebagai "simfoni religi yang langka".
Fenomena warga dari berbagai keyakinan menjalankan ibadah puasa dalam waktu berdekatan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial Kota Semarang.
"Inilah Semarang. Tiga agama menjalani persiapan hari besar bersama dalam simfoni spiritual yang asri. Semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun," kata Agustina.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!