Operasi Militer di Iran Bakal Lanjut Sebulan Penuh, Donald Trump Siapkan Strategi Besar Buat Gulingkan Kekuasaan

Operasi Militer di Iran Bakal Lanjut Sebulan Penuh, Donald Trump Siapkan Strategi Besar Buat Gulingkan Kekuasaan
- (Dok. Anadolu).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia internasional saat ini benar-benar sedang berada di titik didih yang sangat mengkhawatirkan setelah muncul laporan terbaru mengenai langkah berani yang diambil oleh Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dikabarkan telah memberikan lampu hijau untuk terus melanjutkan operasi militer besar-besaran di wilayah Iran setidaknya selama tiga hingga empat pekan ke depan.

Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang sebelum pihak Gedung Putih menentukan langkah final apa yang akan ditempuh selanjutnya terhadap negara tersebut. Situasi ini tentu saja memicu kepanikan global karena bayang-bayang perang besar yang lebih luas di Timur Tengah kini terpampang nyata di depan mata. Bukan sekadar serangan udara biasa, operasi kali ini dilaporkan memiliki target yang jauh lebih dalam dan ambisius dibandingkan aksi-aksi militer sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Amerika.

Fokus utamanya adalah melumpuhkan kekuatan inti pertahanan Iran hingga ke akar-akarnya agar terjadi ketidakstabilan di dalam negeri tersebut. Bagi banyak pengamat internasional, langkah ini dianggap sebagai perjudian besar yang bisa mengubah peta geopolitik dunia secara total.

Atmosfer di kawasan Timur Tengah sendiri saat ini sudah sangat mencekam, terutama setelah aksi saling balas serangan yang terjadi sebelumnya telah memakan banyak korban dan merusak berbagai fasilitas vital. Semua mata kini tertuju pada Washington, menunggu apakah eskalasi ini akan benar-benar memicu perubahan besar atau justru membawa dunia ke dalam krisis kemanusiaan yang lebih parah di tahun 2026 ini.

Target Utama Melumpuhkan IRGC dan Picu Pemberontakan Internal

Berdasarkan laporan dari Axios yang mengutip sumber internal pada Kamis kemarin, fase serangan lanjutan yang akan dijalankan oleh militer Amerika Serikat ini bakal fokus penuh pada kampanye berkelanjutan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Tujuannya sangat spesifik, yaitu untuk melemahkan kekuatan militer tersebut sampai ke titik terendah. Pihak Amerika berharap dengan hancurnya dominasi IRGC, akan muncul gerakan perlawanan atau pemberontakan dari dalam rakyat Iran sendiri yang selama ini terpendam.

Strategi ini dirancang agar kekuatan pemerintah Iran saat ini kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. "Akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan dari dalam Iran. Mungkin sebuah kota akan jatuh atau sebuah unit militer memberontak," kata portal berita tersebut mengutip sumber rahasia itu. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi hanya mengincar fasilitas fisik, tetapi juga berusaha memicu keruntuhan dari sisi internal pemerintahan Iran.

Agenda Terselubung Perubahan Kekuasaan dan Kecaman Internasional

Flashback sedikit, pada 28 Februari lalu, duet militer Amerika Serikat dan Israel memang sudah melancarkan serangan udara ke berbagai target di Iran yang mengakibatkan kerusakan parah serta jatuhnya korban dari kalangan warga sipil. Sebagai balasan, Iran pun nggak tinggal diam dan langsung menyerang balik wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Awalnya, pihak Amerika dan Israel berdalih bahwa serangan mereka adalah langkah darurat untuk mencegah ancaman nuklir Iran. Namun, kedok tersebut perlahan terbuka setelah mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa tujuan akhir dari serangan masif ini adalah untuk melihat adanya perubahan kekuasaan atau rezim di Iran.

Langkah provokatif ini tentu saja memancing kemarahan dari pemimpin dunia lainnya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam keras tindakan tersebut dan menyebut pembunuhan pemimpin Iran sebagai bentuk pelanggaran sinis terhadap hukum internasional yang berlaku.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk operasi gabungan AS-Israel ini. Mereka menuntut agar serangan segera dihentikan dan dilakukan deeskalasi demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa serta kehancuran yang lebih luas di wilayah tersebut.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE