Pilkada Lewat DPRD Ditolak Tegas Megawati, Sebut Sistem Tidak Langsung Khianati Perjuangan Reformasi!

Pilkada Lewat DPRD Ditolak Tegas Megawati, Sebut Sistem Tidak Langsung Khianati Perjuangan Reformasi!
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Isu politik panas kembali meledak setelah Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, angkat bicara soal wacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah alias Pilkada, Gen. Dalam pidatonya yang bener-bener berapi-api, Presiden Kelima RI ini menyatakan perang terhadap ide yang pengen balikin sistem pemilihan ke tangan DPRD. Perlawanan ini bener-bener serius karena Megawati nggak melihat ini cuma sebagai urusan teknis politik biasa, tapi sebagai bentuk ancaman nyata bagi kedaulatan rakyat yang sudah diperjuangkan mati-matian sejak tahun 1998.

Bagi Megawati, hak kalian buat nyoblos langsung calon gubernur atau bupati itu adalah harga mati yang nggak bisa ditawar-tawar lagi dengan alasan apa pun. Beliau merasa kalau sistem Pilkada dikembalikan ke DPRD, itu sama saja dengan memundurkan jarum jam demokrasi kita ke masa lalu yang suram. Pernyataan tegas ini disampaikan langsung di hadapan seluruh kader partai dalam momen penutupan Rakernas I PDI Perjuangan tahun 2026 di Jakarta. Megawati pengen memastikan kalau suara rakyat jangan sampai dikebiri lagi oleh kepentingan segelintir elit politik yang pengen menguasai daerah tanpa restu langsung dari masyarakatnya, Gen.

Megawati menegaskan kalau posisi PDIP dalam hal ini sudah sangat jelas dan nggak bakal goyah. Penolakan ini adalah wujud dari komitmen ideologi partai yang ingin menjaga demokrasi tetap sehat di Indonesia.

"PDI Perjuangan menolak secara tegas setiap wacana pemilihan kepala daerah secara tidak langsung melalui DPRD. Penolakan ini bukan sekadar sikap politik praktis. Ini adalah sikap ideologis, sikap konstitusional, dan sikap historis," tegas Megawati saat memberikan pidato penutupan pada Senin kemarin, dilansir dari Antara.

Pilkada Langsung adalah Warisan Suara Rakyat

Megawati mengingatkan kita semua kalau Pilkada langsung bukan muncul begitu saja dari langit. Sistem ini adalah hasil dari keringat dan air mata rakyat yang pengen lepas dari belenggu kekuasaan yang dulu sangat terpusat. Dengan adanya Pilkada langsung, rakyat punya kendali penuh buat nentuin siapa yang pantas memimpin daerah mereka masing-masing.

"Mekanisme ini lahir dari perjuangan panjang Rakyat untuk merebut kembali hak politiknya setelah puluhan tahun dikekang oleh sentralisme kekuasaan," ujarnya. Beliau juga membantah keras klaim kalau lewat DPRD bisa bikin biaya politik jadi lebih murah. Baginya, itu cuma alasan yang dicari-cari saja. Justru Pilkada langsung itu penting banget buat menjaga kontrol sosial biar pemimpin daerah nggak berbuat seenaknya sendiri karena mereka punya tanggung jawab langsung ke rakyat, bukan cuma ke anggota dewan.

Reformasi Bukan untuk Dibatalkan Pelan-pelan

Sikap konsisten Megawati ini juga jadi pengingat buat para elit politik lainnya agar nggak main-main sama semangat Reformasi. Beliau berjanji kalau partainya bakal jadi yang paling depan buat jagain hak kalian dalam memilih pemimpin. Demokrasi yang partisipatif dan konstitusional nggak boleh dikorbankan cuma karena alasan kestabilan atau efisiensi yang sering digembor-gemborkan pihak tertentu.

"Reformasi bukan untuk dibatalkan secara perlahan. Reformasi harus dijaga, diperkuat, dan disempurnakan. PDI Perjuangan akan berdiri di garis depan untuk menjaga hak Rakyat memilih pemimpinnya sendiri," katanya dengan penuh keyakinan. Megawati bener-bener menutup pintu buat segala macam alasan teknokratis yang ujung-ujungnya cuma pengen mengerdilkan kedaulatan kita sebagai rakyat.

"Kita tidak akan membiarkan demokrasi dikerdilkan atas nama efisiensi, stabilitas, atau alasan-alasan teknokratis yang mengabaikan kedaulatan Rakyat," tutup Megawati. Jadi, gimana menurut kalian, lebih setuju pilih pemimpin sendiri atau dititipin ke wakil rakyat di DPRD saja, Gen?

Menurut Gen, apakah sistem Pilkada langsung selama ini emang sudah ideal buat kalian, atau kalian setuju sama anggapan kalau biaya politiknya emang butuh dievaluasi lagi?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE