Dua Bocah Bali Masuk Jaringan Teroris Lewat WhatsApp, Radikalisasi Dimulai dari Internet, Densus 88 Turun Tangan!
Dua anak Bali terungkap masuk jaringan ekstremisme setelah terpapar internet dan WhatsApp. KPPAD Bali dan Densus 88 ungkap kronologi lengkap dan peringatkan orang tua.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebuah kabar mengejutkan datang dari Bali, dua pelajar berusia 13 dan 14 tahun dinyatakan terpapar ideologi ekstrem hingga tergabung dalam jaringan berbasis terorisme.
Temuan ini diungkap Ketua KPPAD Bali, Luh Gede Yastini, dalam acara pencegahan radikalisme anak di Denpasar, Kamis (11/12/2025). Ia menyebut kondisi keduanya sudah masuk kategori berat dan memerlukan penanganan intensif.
Yastini menjelaskan identitas kedua anak tersebut tidak dapat dipublikasikan demi keamanan mereka. Namun ia menegaskan paparan radikalisme yang mereka alami berakar dari ideologi ekstrem berbasis agama.
"Usia mereka masih sangat muda, 13 dan 14 tahun. Gejala paparan sudah cukup parah," kata Yastini.
Menurut penuturan KPPAD Bali, proses paparan dimulai tiga tahun lalu, ketika keduanya masih berusia sekitar 10 tahun. Mereka terjerat konten keagamaan di internet yang kemudian mengarahkan mereka ke sebuah grup WhatsApp berisi orang-orang berpaham serupa dari berbagai wilayah Indonesia. Menariknya, meski berada dalam grup yang sama, kedua anak ini tidak saling mengenal secara pribadi.
Kini, keduanya tengah menjalani proses rehabilitasi dan deradikalisasi di sebuah lokasi aman di Bali. Mereka mendapatkan pendampingan psikologis, pembinaan agama yang benar, serta dukungan khusus untuk orang tua masing-masing.
Durasi pemulihan belum dapat ditentukan karena tingkat paparan antara keduanya berbeda, salah satunya bahkan mengalami paparan pasif hanya dari tontonan televisi dan internet.
Kasatgaswil Densus 88 Bali, Kombes Antonius Agus Rahmanto, mengonfirmasi kedua pelajar tersebut masih aktif bersekolah. Ia menyebut mereka merupakan bagian dari total 110 anak dari 25 provinsi yang terpapar ekstremisme melalui tiga grup WhatsApp yang telah diidentifikasi.
"Saat ini keduanya masih menjalani treatment dengan psikolog dan kajian agama yang benar," jelas Agus. Densus 88 juga telah menangkap lima admin grup tersebut pada 18 November 2025.
Lebih lanjut, Agus mengungkap kronologi awal paparan. Bermula dari keinginan dua anak tersebut memahami konten agama yang tidak bisa dijelaskan oleh keluarga, mereka pun mencari jawaban melalui internet. Dari situlah admin grup ekstremis menemukan dan merekrut mereka, lalu memberikan materi yang menyesatkan. Bahkan, kedua bocah ini sempat diarahkan untuk menargetkan dua lokasi di Bali, meski Agus tidak membeberkan detailnya.
Ia menegaskan ratusan anak yang terpapar dalam kasus ini mendapatkan ajaran lanjutan dari individu ekstremis yang lebih ahli, menjadikan proses radikalisasi berlangsung semakin cepat dan privat.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi orang tua. Agus menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan perilaku anak, terutama bagi mereka yang kerap merasa terabaikan atau menjadi korban perundungan.
Di sisi lain, Ketua KPPAD Bali menyoroti urgensi pembentukan forum pencegahan ekstremisme yang melibatkan pemerintah daerah hingga desa adat, mengingat ancaman ekstremisme kini tidak hanya berbasis agama, tetapi juga bentuk-bentuk lainnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!