Review Film ‘The Smashing Machine’, Saat Dwayne Johnson Jadi Petarung UFC dengan Hati Rapuh

Review Film ‘The Smashing Machine’, Saat Dwayne Johnson Jadi Petarung UFC dengan Hati Rapuh
- (Dok. The Indian Express).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setelah lama dikenal sebagai ikon film laga tak terkalahkan, Dwayne "The Rock" Johnson akhirnya menanggalkan citra lamanya lewat "The Smashing Machine" (2025). Disutradarai Benny Safdie, film ini bukan sekadar drama olahraga, melainkan potret menyayat hati tentang sosok pria yang kehilangan arah-sebuah mesin besar yang perlahan rusak dari dalam.

Film ini mengangkat kisah nyata legenda UFC, Mark Kerr, yang berjaya di era awal UFC dan Pride. Namun, Safdie menolak membuat biopik standar. Ia justru menggali sisi emosional terdalam sang petarung: bukan soal kemenangan di ring, tapi pergulatan batin, kesepian, dan kecanduan yang menghancurkan hidupnya.

Dwayne Johnson tampil luar biasa, sepenuhnya melebur menjadi Mark Kerr-seorang pria lembut yang tidak tahu cara menghadapi dirinya sendiri. Di dalam ring, ia buas dan tak kenal ampun. Tapi di luar ring, ia hanyalah manusia rapuh yang bergulat dengan tekanan sponsor dan ketakutan akan kegagalan. Inilah kisah tentang kesempatan kedua, bukan kejayaan yang berkilau.

Emily Blunt yang memerankan Dawn Staples, kekasih Kerr, juga menjadi elemen penting dalam cerita. Hubungan mereka intens, penuh cinta sekaligus kehancuran. Blunt tak sekadar menjadi "wanita pendamping", melainkan cermin dari kesepian dan keterpurukan Kerr sendiri. Dinamika mereka menampilkan drama emosional paling kuat dalam film ini.

Benny Safdie dengan berani menolak glorifikasi dunia MMA. Tak ada montase heroik atau sorak kemenangan-yang ada hanyalah manusia yang berjuang tetap berdiri meski nyaris runtuh. Sinematografi garapan Maceo Bishop menggunakan gaya VHS 16mm, menciptakan kesan dokumenter yang mentah dan intim. Musik jazz dari Nala Sinephro mempertebal suasana, menghadirkan ritme lembut yang paradoks dengan kerasnya dunia MMA.

"The Smashing Machine" terasa seperti anti-biografi: tidak mengejar klimaks besar, tapi memilih jalan reflektif yang jujur. Film ini bukan untuk mereka yang mencari aksi cepat saji, melainkan bagi penonton yang siap merenungkan arti kekuatan dan kerapuhan.

Dengan durasi dua jam lebih, "The Smashing Machine" akan mengguncang emosi dan membuat penonton bertanya-apakah kemenangan sejati datang dari ring, atau dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri? Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 10 Oktober 2025.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE