Ukraina Terancam Terpecah, Rencana Rekonstruksi Dibayangi Ketidakpastian

Ukraina Terancam Terpecah, Rencana Rekonstruksi Dibayangi Ketidakpastian
- (Dok. NPR).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Konferensi internasional untuk membahas pemulihan pascaperang di Ukraina digelar di Roma, namun dibayangi kekhawatiran besar: serangan drone Rusia yang terus meningkat dan potensi pembagian wilayah Ukraina dalam skenario perdamaian yang belum jelas.

Pertemuan ini dihadiri oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy bersama sejumlah pemimpin Eropa, seperti Giorgia Meloni dari Italia, Donald Tusk dari Polandia, dan Friedrich Merz dari Jerman. Di saat yang sama, Ukraina menghadapi tekanan ekonomi besar karena infrastruktur diserang habis-habisan, sementara masa depan politik dan wilayah negara itu kian tidak pasti.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa bila Ukraina menyetujui penyerahan empat wilayah yang saat ini dikuasai Rusia-Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson-maka lebih dari sepertiga biaya rekonstruksi, sekitar US$200 miliar, bisa dibebankan kepada Rusia. Namun, prospek itu menimbulkan risiko terjadinya ketimpangan pertumbuhan antara wilayah barat dan timur Ukraina di masa depan.

Tujuan utama konferensi adalah mendorong investasi jangka panjang dari sektor swasta untuk mendukung pembangunan kembali Ukraina. Tapi serangan udara yang terus terjadi, termasuk serangan besar terbaru ke ibu kota Kyiv, membuat fokus peserta konferensi bergeser ke masalah kemanusiaan dan stabilitas jangka pendek.

Zelenskyy menegaskan bahwa serangan semalam menunjukkan bahwa Rusia "bersiap" menyabotase pertemuan ini. Sementara itu, Merz menyebut serangan yang menargetkan warga sipil sebagai bentuk terorisme dan menyerukan tekanan lebih besar terhadap Moskow agar Putin bersedia berdialog.

Menurut lembaga riset ISPI yang mengutip data Bank Dunia, kerusakan di empat wilayah utama yang dikuasai Rusia mencapai US$188 miliar. Bila keempat wilayah itu tak kembali ke Ukraina, beban finansialnya bisa bergeser ke Moskow. Namun, Kyiv sejauh ini belum menyetujui rencana damai yang mengorbankan wilayahnya.

Secara keseluruhan, pemulihan penuh Ukraina diperkirakan memakan biaya hingga US$524 miliar dalam jangka waktu 10 tahun (2025-2035). Kerusakan paling parah terjadi di sektor perumahan, transportasi, serta energi dan pertambangan. Serangan terhadap infrastruktur energi, misalnya, meningkat hampir dua kali lipat sejak konferensi sebelumnya tahun lalu.

Ekonomi Ukraina juga terpukul. Inflasi melonjak hingga 15% akibat pengeluaran militer dan gangguan industri, sementara proyeksi pertumbuhan tahun ini dipangkas menjadi hanya 2% oleh Bank Dunia.

Meski berbagai konferensi telah digelar sebelumnya, banyak pihak menilai belum ada langkah konkret yang dihasilkan. Mantan diplomat AS untuk Ukraina, Kurt Volker, dalam tulisannya menyebut bahwa pertemuan-pertemuan sebelumnya hanya menghasilkan ide tanpa implementasi nyata. Ia menyerukan pembentukan badan permanen untuk memfasilitasi investasi swasta dan memastikan rencana pembangunan betul-betul berjalan.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE