Zelenskyy Tantang Trump, Siap Adakan Pemilu Jika Keamanan Ukraina Terjamin

Zelenskyy Tantang Trump, Siap Adakan Pemilu Jika Keamanan Ukraina Terjamin
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden AS Donald Trump saat pertukaran pendapat di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, D.C., pada 28 Februari 2025. - (Dok. Getty Images).

JAKARTA, Genvoice.id - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapannya untuk menggelar pemilihan umum di negaranya apabila kondisi keamanan dapat dijamin sepenuhnya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons langsung terhadap kritik mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mempertanyakan komitmen demokrasi Ukraina karena belum melaksanakan pemilu di tengah perang dengan Rusia.

Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak menolak pelaksanaan pemilu. Namun, ia menekankan bahwa faktor keamanan menjadi syarat utama agar pemungutan suara dapat berlangsung secara bebas, adil, dan sah. Menurutnya, tanpa jaminan keamanan, pemilu justru berisiko membahayakan warga sipil dan merusak legitimasi demokrasi.

Presiden Ukraina itu menyebut bahwa jika negara-negara mitra, khususnya Amerika Serikat dan sekutu Eropa, mampu menjamin stabilitas keamanan, Ukraina siap menggelar pemilu dalam rentang waktu 60 hingga 90 hari.

Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah dan parlemen untuk membahas kerangka hukum yang diperlukan guna memungkinkan pemilu dilaksanakan di tengah situasi luar biasa.

Saat ini, Ukraina masih berada di bawah status darurat militer akibat konflik bersenjata yang berlangsung sejak invasi Rusia. Berdasarkan hukum nasional Ukraina, pemilu tidak dapat digelar selama negara berada dalam kondisi darurat militer.

Selain ancaman serangan, tantangan lain mencakup jutaan warga yang mengungsi, sebagian wilayah yang terdampak langsung konflik, serta keterbatasan logistik untuk memastikan seluruh warga dapat menggunakan hak pilihnya.

Zelenskyy menegaskan bahwa posisi pemerintahannya sejalan dengan prinsip demokrasi. Ia menyatakan Ukraina tidak berniat memperpanjang kekuasaan dengan alasan perang, namun ingin memastikan bahwa setiap proses pemilu berlangsung secara aman dan kredibel.

Di sisi lain, penyelenggaraan pemilu tanpa perlindungan memadai justru berpotensi dimanfaatkan sebagai alat destabilisasi.

F
Fahri Ramadhan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE