Seringai Menarik Semua Karyanya dari Spotify, Ini Alasan di Baliknya

Seringai Menarik Semua Karyanya dari Spotify, Ini Alasan di Baliknya
Ricky Siahaan, Edy Khemod, Sammy Bramantyo, Arian Arifin. - (Dok. Instagram/@seringai_official).

JAKARTA, Genvoice.id - Keputusan mengejutkan datang dari band metal asal Indonesia, Seringai. Grup yang dikenal lewat lagu-lagu keras dengan lirik kritis itu resmi menarik seluruh karya mereka dari Spotify. Langkah ini diumumkan langsung oleh manajemen band pada awal pekan ini dan sontak menjadi bahan pembicaraan hangat di dunia musik tanah air.

Kini, ketika penggemar mencoba mencari katalog musik Seringai di Spotify, hanya dua lagu yang tersisa, "Satu Sisi dan Menyerang" serta "Lencana". Sementara album penuh seperti "Taring" (2012) dan "Seperti Api" (2018) sudah tidak lagi tersedia.

Manajer Seringai, Wendi Putranto, mengonfirmasi bahwa keputusan untuk mundur dari Spotify diambil dengan pertimbangan matang. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berkaitan dengan masalah teknis atau pendapatan, melainkan soal prinsip dan sikap moral.

"Betul, hanya mundur dari Spotify. Tapi karya kami masih bisa dinikmati di platform lain," ujar Wendi seperti yang dikutip dari Detikcom, Senin (13/10/2025).

Artinya, lagu-lagu Seringai tetap tersedia di layanan musik digital lain seperti YouTube Music, Apple Music, Deezer, hingga Bandcamp.

Langkah drastis ini diambil setelah muncul laporan bahwa Daniel Ek, CEO Spotify, melakukan investasi pribadi ke sejumlah perusahaan teknologi pertahanan yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan drone militer. Bagi Seringai, hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka pegang selama ini.

"Kami tidak ingin musik kami berada di platform yang pemimpinnya mendukung atau berafiliasi dengan industri peperangan," ujar Wendi.

Menurutnya, keputusan ini merupakan bentuk penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan konflik bersenjata. Seringai ingin menegaskan bahwa karya mereka tidak bisa dipisahkan dari sikap ideologis yang anti-perang dan pro-perdamaian.

Menurutnya, keputusan ini merupakan bentuk penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan konflik bersenjata. Seringai ingin menegaskan bahwa karya mereka tidak bisa dipisahkan dari sikap ideologis yang anti-perang dan pro-perdamaian.

F
Fahri Ramadhan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE