Yaya Touré Jadi Pelatih Afrika Pertama di Liga Champions, Torehkan Sejarah Bersama Bratislava

Yaya Touré Jadi Pelatih Afrika Pertama di Liga Champions, Torehkan Sejarah Bersama Bratislava
- (Dok. CNN Indonesia).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Yaya Touré mencatat sejarah baru di Liga Champions 2026/2027. Pelatih asal Pantai Gading itu menjadi pelatih Afrika pertama yang memimpin sebuah tim dalam fase utama kompetisi antarklub elite Eropa tersebut.

Touré menorehkan pencapaian tersebut saat membawa Slovan Bratislava menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion Parc des Princes, Rabu (9/9/2026).

Kehadiran Touré di pinggir lapangan menjadi catatan penting bagi sepak bola Afrika. Sebelum dirinya, belum pernah ada pelatih asal benua tersebut yang memimpin tim dalam fase utama Liga Champions.

Namun, momen bersejarah itu tidak berjalan mulus bagi Slovan Bratislava. Klub Slovakia tersebut harus mengakui keunggulan PSG dengan kekalahan telak 1-6 dalam pertandingan yang berlangsung di Paris.

Hasil tersebut sekaligus mengakhiri debut Bratislava di pentas kontinental Eropa bersama Touré dengan hasil kurang memuaskan. Meski demikian, pencapaian sang pelatih tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Liga Champions.

Modal Positif Sebelum Hadapi PSG

Bratislava sebenarnya datang ke Paris dengan kepercayaan diri tinggi. Sebelum menghadapi PSG, tim asuhan Touré tidak terkalahkan dalam tujuh pertandingan secara beruntun.

Rekor tersebut menjadi modal bagi Touré untuk menghadapi PSG yang memiliki kualitas skuad jauh lebih tinggi. Pengalaman sang pelatih di Liga Champions juga menjadi salah satu keunggulan tersendiri.

Touré bukan sosok asing dalam kompetisi tersebut. Semasa masih aktif sebagai pemain, ia pernah tampil di Liga Champions bersama Barcelona dan Manchester City.

Pengalaman panjangnya sebagai pemain di level tertinggi Eropa kemudian menjadi bagian dari perjalanan baru Touré sebagai pelatih. Pada usia 43 tahun, ia kini mulai membangun karier kepelatihannya dan mencatat sejarah bersama Bratislava.

Touré Akui Perbedaan Level dengan PSG

Setelah pertandingan, Touré mengakui bahwa terdapat perbedaan kualitas yang cukup besar antara Slovan Bratislava dan PSG. Ia tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya yang telah berusaha menghadapi sang juara bertahan.

"Paris memiliki tim terbaik di dunia. Para pemain saya telah berusaha dan melakukan semua yang mereka bisa, tetapi itu sangat sulit," kata Touré, dikutip dari Slovak Spectator.

Touré menilai Bratislava sebenarnya mampu menunjukkan permainan yang cukup baik, meski pada akhirnya harus kebobolan enam gol.

"Tim kami bermain sangat baik. Kami bisa kecewa karena kebobolan tiga atau empat gol, tetapi apa yang bisa kami lakukan melawan tim seperti PSG?" ujarnya.

Kekalahan tersebut membuat debut Slovan Bratislava di bawah Touré dalam fase utama Liga Champions berakhir dengan skor mencolok. Namun, bagi Touré secara pribadi, pertandingan tersebut tetap menjadi tonggak penting karena ia telah mencatatkan namanya sebagai pelatih Afrika pertama yang memimpin tim di fase utama kompetisi tersebut.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE