Buku Islam Ala Prabowo Bikin Geger: Siapa di Balik Penulisannya dan Apa Isinya?
Buku yang membahas sisi keislaman Prabowo Subianto ini kembali ramai diperbincangkan. Lantas, siapa penulisnya, bagaimana proses penyusunannya, dan apa yang memicu polemik?
JAKARTA, GENVOICE.ID - BukuIslam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islamkembali ramai diperbincangkan publik. Padahal, buku yang membahas sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto tersebut sudah diterbitkan sejak April 2025 dan diluncurkan beberapa bulan kemudian.
Perbincangan mengenai buku ini kembali mencuat setelah sejumlah tokoh yang namanya dikaitkan dengan materi di dalamnya memberikan klarifikasi. Persoalan yang muncul bukan hanya mengenai isi buku, tetapi juga menyangkut proses wawancara, penyusunan tulisan, pemberian judul, hingga posisi para tokoh yang menjadi narasumber.
Lantas,siapa sebenarnya penulis buku Islam Ala Prabowo? Apa isi bukunya dan mengapa kini menjadi polemik?Berikut penjelasannya.
Apa Itu Buku Islam Ala Prabowo?
Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islammerupakan buku yang membahas sosok Prabowo Subianto dari sudut pandang keislaman dan kehidupan umat.
Berbeda dengan biografi politik yang umumnya berfokus pada perjalanan karier, buku ini mencoba mengulas bagaimana sosok Prabowo dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, kehidupan kebangsaan, kepemimpinan, hingga persoalan keumatan.
Buku tersebut berupaya menghadirkan perspektif mengenai hubungan Prabowo dengan berbagai nilai keagamaan. Karena itu, pembahasannya tidak hanya berkaitan dengan perjalanan politik, tetapi juga menyentuh bagaimana Prabowo dipandang dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia.
Siapa Penulis Buku Islam Ala Prabowo?
Pertanyaan mengenaisiapa penulis Islam Ala Prabowomenjadi salah satu hal yang ikut mencuat dalam polemik.
Dalam katalog Gramedia, terdapat tiga nama yang tercantum sebagai penulis, yakni:
- Abdur Rahim Hasan
- Rikal Dikri
- Mush'ab Muqoddas
Namun, perlu dibedakan antara penulis atau penyusun dengan tokoh yang memberikan keterangan dalam proses pembuatan buku.
Sejumlah nama ulama, pejabat, dan tokoh nasional turut muncul dalam bagian-bagian buku. Kehadiran nama tersebut tidak otomatis berarti mereka merupakan penulis buku secara keseluruhan.
Perbedaan antarapenulis, penyusun, kontributor, dan narasumberinilah yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam polemik.
Apakah Yusril Ihza Mahendra Penulis Buku Ini?
Yusril Ihza Mahendra termasuk tokoh yang memberikan klarifikasi terkait keterlibatannya.
Yusril menyatakan bahwa dirinya bukan penulis bukuIslam Ala Prabowo. Ia mengaku pernah diwawancarai oleh tim penyusun sebelum dirinya menjabat sebagai menteri.
Menurut keterangannya, ia tidak dilibatkan dalam penentuan judul buku maupun judul tulisan yang berkaitan dengan hasil wawancara tersebut.
Yusril juga tidak mempersoalkan substansi pandangannya yang dimuat. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana hasil wawancara tersebut kemudian ditempatkan dan diberi judul dalam buku.
Keterangan ini memperlihatkan bahwa status seseorang sebagai narasumber tidak selalu sama dengan status sebagai penulis.
Siapa Penggagas Buku Islam Ala Prabowo?
Jejak mengenai awal gagasan buku ini juga menjadi bagian penting untuk memahami polemiknya.
BAZNAS sebelumnya menyebut bukuIslam Ala Prabowo Subiantosebagai salah satu agenda dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2025.
Dalam informasi mengenai peluncuran buku tersebut, nama Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI KH Anwar Iskandar disebut berkaitan dengan inisiasi penerbitannya.
Buku kemudian diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2025.
Meski demikian, istilah "diinisiasi" tidak serta-merta menjelaskan seluruh proses editorial. Masih terdapat sejumlah pertanyaan mengenai bagaimana penyusun dipilih, siapa yang melakukan wawancara, bagaimana materi diolah, hingga siapa yang menentukan judul akhir tulisan.
Hal-hal tersebut menjadi relevan ketika beberapa narasumber kemudian memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan mereka.
Kenapa Buku Islam Ala Prabowo Jadi Kontroversi?
Polemik muncul setelah sejumlah tokoh mempertanyakan pencantuman nama maupun cara materi wawancara mereka digunakan dalam buku.
Salah satu tokoh yang menyampaikan keberatan adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.
Persoalan yang disorot Gus Kautsar berkaitan dengan judul tulisan yang dikaitkan dengannya serta proses penerbitan materi tersebut.
Gus Kautsar mengakui pernah menerima seseorang yang disebut sebagai utusan salah satu penulis. Pertemuan itu berlangsung sekitar pertengahan 2024 dan diisi dengan wawancara yang membahas berbagai topik, termasuk kebangsaan, pesantren, keberagaman, dan kemerdekaan.
Namun, ketika materi tersebut masuk ke dalam buku, muncul tulisan dengan judul"Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto."
Judul tersebut kemudian menjadi salah satu sumber keberatan.
Persoalannya bukan semata-mata mengenai pernah atau tidaknya wawancara dilakukan. Perdebatan juga menyentuh bagaimana hasil wawancara diolah menjadi tulisan dan apakah judul yang digunakan telah merepresentasikan maksud narasumber.
Apa Hubungan BAZNAS dengan Buku Islam Ala Prabowo?
Nama BAZNAS turut menjadi perhatian karena buku tersebut diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS 2025.
Namun, BAZNAS memberikan klarifikasi pada September 2026 bahwa dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tidak digunakan untuk proses pembuatan maupun penerbitan buku tersebut.
Menurut BAZNAS, keterlibatan lembaga dalam peluncuran buku berada dalam konteks hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.
Dengan demikian, perlu dibedakan antaralokasi atau momentum peluncuran buku dengan sumber pendanaan penerbitannya.
Berdasarkan klarifikasi BAZNAS, dana ZIS tidak digunakan untuk membuat maupun menerbitkanIslam Ala Prabowo.
Apakah Prabowo Subianto Menulis Buku Islam Ala Prabowo?
Tidak ada nama Prabowo Subianto dalam tiga nama penulis yang tercantum pada katalog Gramedia.
Prabowo merupakan tokoh utama yang dibahas dalam buku tersebut, bukan penulisnya.
Hal ini penting karena judulIslam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islamdapat membuat pembaca sekilas mengira buku tersebut merupakan autobiografi atau karya yang ditulis langsung oleh Prabowo.
Namun, berdasarkan informasi kepenulisan yang tercantum, buku tersebut ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.
Sementara itu, sejauh informasi terbuka yang tersedia, keterlibatan langsung Prabowo dalam proses editorial, pemilihan narasumber, maupun penentuan judul tidak seharusnya diasumsikan tanpa keterangan yang dapat diverifikasi.
Pangkal Polemik: Narasumber atau Penulis?
Salah satu persoalan utama yang muncul dari kontroversi ini adalah batas antaranarasumber dan penulis.
Dalam proses penulisan buku, wawancara dengan tokoh merupakan hal yang lazim dilakukan. Hasil wawancara kemudian dapat digunakan sebagai bahan untuk menyusun sebuah tulisan.
Namun, persoalan dapat muncul apabila hasil wawancara diubah menjadi artikel atau bab tertentu dan kemudian pembaca menganggap narasumber sebagai pihak yang menulis atau menyetujui tulisan tersebut.
Karena itu, proses editorial menjadi penting.
Beberapa pertanyaan yang kemudian muncul antara lain:
- Siapa yang melakukan wawancara?
- Siapa yang mengolah hasil wawancara?
- Siapa yang menulis naskah akhirnya?
- Siapa yang menentukan judul tulisan?
- Apakah naskah akhir dikonfirmasi kepada narasumber?
- Bagaimana status nama tokoh yang dicantumkan dalam buku?
Jawaban atas pertanyaan tersebut diperlukan untuk melihat persoalan secara lebih utuh.
Mengapa Buku Islam Ala Prabowo Kembali Viral pada 2026?
BukuIslam Ala Prabowosebenarnya bukan buku baru. Buku tersebut telah diterbitkan pada 2025 dan diluncurkan pada Agustus tahun yang sama.
Perhatian publik kembali meningkat pada September 2026 setelah muncul sejumlah keberatan dan klarifikasi dari tokoh yang namanya dikaitkan dengan materi di dalam buku.
Dengan demikian, polemik buku ini dapat dilihat dari dua sisi.
Pertama,substansi buku, yaitu bagaimana Prabowo digambarkan melalui perspektif Islam, kepemimpinan, kebangsaan, pesantren, dan kehidupan umat.
Kedua,proses editorial, terutama mengenai bagaimana keterangan para tokoh diperoleh, diolah, diberi judul, dan kemudian dipublikasikan.
Untuk saat ini, aspek kedua menjadi salah satu titik yang paling banyak diperdebatkan.
Apa yang Masih Perlu Dijelaskan?
KontroversiIslam Ala Prabowomenunjukkan bahwa sebuah buku dapat menimbulkan polemik bukan hanya karena isi atau pandangan yang dibawanya, tetapi juga karena proses di balik penyusunannya.
Sejumlah informasi mengenai buku tersebut sudah tersedia. Tiga nama tercantum sebagai penulis dalam katalog Gramedia. Ahmad Muzani dan KH Anwar Iskandar disebut berkaitan dengan inisiasi buku. Buku juga diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS 2025.
Namun, sejumlah aspek editorial masih menjadi perhatian, khususnya mengenai mekanisme wawancara, pengolahan materi, penentuan judul, atribusi nama, serta sejauh mana narasumber mengetahui dan menyetujui bentuk akhir tulisan yang diterbitkan.
Karena itu, memahami polemikbuku Islam Ala Prabowotidak cukup hanya dengan melihat judul atau nama-nama yang tercantum di dalamnya. Penting pula membedakan dengan jelas siapa yang menjadi penulis, siapa yang menjadi penyusun, siapa yang menjadi narasumber, dan bagaimana materi mereka diproses hingga menjadi bagian dari buku.
Pada akhirnya, transparansi mengenai proses editorial menjadi kunci agar publik dapat memahami persoalan ini secara lebih utuh dan tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan pencantuman nama atau judul tulisan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!