Setelah 12 Tahun Absen di Olimpiade, Anggar Indonesia Bangkit! Ini Langkah Nyata Menuju Panggung Dunia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Musim panas 2012 di London menjadi penampilan terakhir anggar Indonesia di Olimpiade. Kala itu, nama Diah Permatasari tercatat sebagai fencer terakhir yang mengibarkan Merah Putih di ajang olahraga paling prestisius dunia. Meski hanya sampai babak 32 besar, kehadirannya menjadi warisan penting setelah 20 tahun Indonesia vakum sejak era Handry Lenzun, Zakaria Lucas, Silvia Kristina, dan sederet nama legendaris lainnya.
Namun sejak Olimpiade London 2012, anggar Indonesia seolah tenggelam dari radar internasional. Tiga edisi Olimpiade berikutnya, Rio 2016, Tokyo 2020, dan Paris 2024, berlangsung tanpa satu pun wakil dari cabang anggar Tanah Air. Padahal, anggar bukanlah cabang asing bagi Indonesia di panggung Olimpiade.
Tapi sekarang, nyala semangat itu kembali muncul. Perlahan tapi pasti, anggar Indonesia mulai bangkit, dan sederet prestasi serta program pembinaan menjadi bukti bahwa cabang ini tidak pernah benar-benar padam.
SEA Games 2023 di Kamboja menjadi titik balik, saat tim anggar Indonesia meraih medali perunggu di nomor beregu sable putra melalui Irfandi Nurkamil, Ricky Dhisulima, dan Dita Afriadi. Ini menjadi pelipur lara setelah anggar Indonesia gagal total di SEA Games Vietnam 2021, satu-satunya cabang tanpa medali kala itu.
Delapan bulan berselang, di awal 2024, para fencer muda Indonesia menggebrak Kejuaraan Anggar ASEAN (SEAFF Junior and Cadet Championship) di Kuala Lumpur dengan raihan lima medali:
-
1 Emas: Sundari (epee junior putra)
-
1 Perak: Tim epee junior putra (Arval Raizel RS, Andi Akbar, Diven Dwi PA, Zaudan Karim)
-
3 Perunggu:
-
Nazwa Salwa (epee junior putri)
-
Tim epee junior putri
-
Tim foil junior putra
-
Prestasi ini menjadi sinyal kuat bahwa regenerasi berjalan, dan anggar Indonesia berada di jalur yang tepat menuju panggung dunia.
Tahun 2025 akan menjadi momen bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Anggar Asia oleh Konfederasi Anggar Asia (FCA). Ajang ini akan digelar di Bali dan diikuti lebih dari 700 atlet dari 30 negara.
Meski dalam edisi 2025 ini Indonesia tak menargetkan medali, keikutsertaan lebih dari 20 fencer Indonesia merupakan bagian dari strategi besar PB Ikasi: menambah jam terbang, memperkuat mental, dan mengukur kemampuan sejati di panggung Asia.
Ketua Umum PB Ikasi, Amir Yanto, menyatakan bahwa ini adalah bagian dari proses realistis membangun kekuatan anggar nasional.
"Banyak yang bisa dipelajari dari event ini. Inilah saatnya fencer Indonesia memahami persaingan di level yang lebih tinggi," tegasnya.
Kementerian Pemuda dan Olahraga pun menyambut hangat terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Kejuaraan Asia. Pemerintah mendorong PB Ikasi untuk menyusun peta jalan (road map) yang terstruktur dari level SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
Ditekankan bahwa anggar adalah bagian dari "mother of sport", dan pembinaan harus dilakukan secara menyeluruh, dari pencarian bakat, pelatnas jangka panjang, hingga keterlibatan di berbagai turnamen internasional.
Dengan peta jalan yang jelas dan semangat baru dari atlet muda, Indonesia berpeluang mencetak kembali sejarah di Olimpiade mendatang, mungkin Los Angeles 2028 atau Brisbane 2032.
Setelah 12 tahun absen, anggar Indonesia sedang dalam misi kebangkitan. Dari medali di SEA Games dan Kejuaraan ASEAN, hingga persiapan matang menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia 2025, semua ini bukan sekadar angin lalu.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!