Dokter Tirta Soroti Nakes Hina Pasien BPJS, Ingatkan Pentingnya Etika Bermedia Sosial

Dokter Tirta Soroti Nakes Hina Pasien BPJS, Ingatkan Pentingnya Etika Bermedia Sosial
- (Dok. VIVA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dokter Tirta angkat bicara mengenai polemik komentar sejumlah tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien BPJS yang ramai diperbincangkan di media sosial. Ia mengingatkan para tenaga kesehatan agar lebih berhati-hati ketika menyampaikan pendapat di platform digital.

Persoalan tersebut bermula dari unggahan seorang pasien BPJS bernama Yurizal di Threads. Ia menyampaikan keluhan mengenai lamanya antrean dalam mendapatkan pelayanan rawat inap.

Unggahan itu kemudian mendapat banyak respons dari warganet. Namun, polemik muncul setelah sejumlah oknum tenaga kesehatan memberikan komentar yang dinilai tidak menunjukkan empati terhadap keluhan pasien.

Perdebatan semakin ramai setelah diketahui bahwa Yurizal telah meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat komentar yang sebelumnya ditulis oleh sejumlah nakes kembali menjadi sorotan publik.

Melalui video yang diunggah di Instagram pribadinya, Dokter Tirta meminta para tenaga kesehatan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Ia mengingatkan bahwa seseorang yang bekerja sebagai tenaga medis tetap perlu mengendalikan diri ketika menggunakan media sosial.

"Kita sebagai dokter ketika tidak tahu case-nya, ya kita bisa menahan jari untuk reply," ujar Dokter Tirta, dikutip dari unggahan videonya, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, tindakan memberikan komentar buruk terhadap pasien tidak dapat dibenarkan. Ia juga menolak alasan seperti tekanan pekerjaan atau burnout digunakan untuk membenarkan perilaku tersebut di media sosial.

"Pada dasarnya apa yang terjadi di Threads itu udah salahnya sejawat. Jadi kalian nggak perlu ngalor ngidul alesan, kayak organisasi kedokteran bilang ini karena burnout lah, karena apa lah, nggak. Apa yang terjadi di Threads itu pure ada pasien komplain, dia sudah buat utas, ada dokter yang me-reply dengan buruk, sudah," katanya.

Dokter Tirta menilai persoalan tersebut seharusnya diselesaikan dengan cara yang tepat tanpa melibatkan komentar negatif di media sosial. Ia juga mengingatkan bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki kendali atas tindakan yang dilakukan di ruang digital.

"Terserah, mau komite etik kedokteran yang ngurus atau mau alasan burnout dilampiaskan ke medsos. Kamu bisa mengontrol jarimu," ujarnya.

Selain menyoroti perilaku tenaga kesehatan di media sosial, Dokter Tirta mengingatkan bahwa pasien memiliki hak untuk menyampaikan keluhan terhadap pelayanan yang diterimanya. Ia menilai pasien perlu dipandang sebagai pihak yang menggunakan layanan kesehatan sehingga keluhannya harus ditanggapi secara profesional.

Menurutnya, kompetensi medis juga perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi dan membangun empati. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dalam menangani kondisi medis pasien, tetapi juga harus mampu menjaga sikap ketika berinteraksi dengan mereka.

Dokter Tirta menilai persoalan tenaga kesehatan dan pasien yang berujung menjadi konflik di media sosial bukanlah hal baru. Karena itu, ia berharap kejadian tersebut dapat menjadi pembelajaran agar tenaga kesehatan lebih bijak dalam menggunakan platform digital.

Di akhir unggahannya, Dokter Tirta turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi kehilangan tersebut.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE