Kolombia dan Intelijen AS Fokus Incar Kamp, Laboratorium dan Organisasi Kriminal Narkoba
BOGOTA - Menteri Dalam Negeri Kolombia Armando Benedetti mengatakan operasi antinarkoba Kolombia akan menargetkan laboratorium narkoba, organisasi kriminal, serta kamp-kamp mereka.
Dalam kaitan itu, Benedetti menegaskan bahwa pemerintah Kolombia akan terus bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk memerangi perdagangan narkoba dengan memanfaatkan intelijen dan teknologi Washington
"Pemerintah Kolombia telah memberi tahu pemerintah AS bahwa kami akan terus berkoordinasi dan bekerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba," ujar Benedetti dalam sebuah video bersama Menteri Kehakiman Andres Idarraga Franco yang dibagikan pemerintah kepada para jurnalis, Senin (5/1).
Sementara itu, Andres Idarraga Franco menegaskan bahwa pemberantasan narkotika harus terus dilakukan secara bersama dengan memanfaatkan peluang kerja sama bilateral. "Kami akan terus menekankan pemberantasan kejahatan ini, khususnya di perbatasan Kolombia-Venezuela," kata Idarraga.
Ia mengatakan Kolombia akan memprioritaskan upaya penanggulangan ancaman tersebut, terutama di wilayah perbatasan Kolombia-Venezuela.
Dikutip dari The Straits Times, Benedetti menambahkan kerja sama tersebut mengandalkan intelijen dan teknologi AS untuk menghancurkan laboratorium, jaringan kriminal, serta kamp-kamp kejahatan.
Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai "orang sakit" dan mengatakan bahwa operasi militer AS di Kolombia dimungkinkan.
Pada Sabtu lalu, pasukan AS memasuki Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang pada Senin (5/1) menyatakan tidak bersalah di pengadilan New York atas dakwaan terorisme narkoba.
Kolaborasi Internasional
Kolombia mengkritik pernyataan Trump pada Minggu dan menegaskan bahwa setiap potensi intervensi AS akan menjadi "campur tangan yang tidak semestinya."
Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez mengatakan terdapat "peluang emas" untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam memerangi perdagangan narkoba.
AS diketahui menekan Kolombia untuk meningkatkan upaya pemberantasan narkoba, seiring melonjaknya penanaman daun koka-bahan baku pembuatan kokain dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintahan Presiden Petro menegaskan telah menyita kokain dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk hampir 1.000 ton metrik sepanjang 2025.
Diketahui, pada pekan lalu, AS melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka ke New York.
Presiden AS Trump mengatakan pasangan itu akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam "narko-terorisme" dan dianggap menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.
Belakangan, Trump juga menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro memproduksi kokain dan tidak menutup kemungkinan militer AS melakukan operasi serupa ke Kolombia. SB/Ant/and
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!