Waspadalah! Jebakan Utang Bayangi Peningkatan Pinjaman Global
JAKARTA - Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai peningkatan utang luar negeri berpotensi mempersempit ruang fiskal karena beban pokok dan bunga yang membengkak, sehingga mengurangi alokasi anggaran untuk sektor publik seperti pendidikan dan kesehatan.
"Selain itu, risiko debt trap (jebakan utang) dan debt overhang (beban utang besar) mengintai, di mana utang baru digunakan untuk menutup kewajiban lama," katanya kepada Koran Jakarta, Selasa (17/3).
Kebergantungan pada pembiayaan asing juga membatasi kemandirian kebijakan ekonomi, sementara dominasi utang dalam dolar AS meningkatkan risiko nilai tukar saat rupiah melemah. "Dalam jangka panjang, akumulasi utang yang berlebihan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi karena fokus beralih pada pembayaran kewajiban dibanding ekspansi produktif," ujarnya.
Senada, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi menilai menilai ketergantungan pada pembiayaan eksternal membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak global, terutama pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga internasional, dan perubahan sentimen investor. Pelemahan nilai tukar akan memperbesar beban pembayaran utang dan bunga, meskipun rasio utang terhadap PDB masih terlihat moderat.
Namun, lanjutnya, indikator tersebut dinilai kurang mencerminkan tekanan fiskal riil. "Yang lebih krusial adalah meningkatnya rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara serta ketergantungan pada utang baru untuk menutup defisit, yang berpotensi mendorong APBN masuk ke dalam lingkaran utang (debt trap ringan)," jelasnya.
Sementara itu, Ekonom Universitas Airlangga Surabaya Imron Mawardi menekankan keputusan menambah utang harus mempertimbangkan kemampuan bayar yang tercermin dari tax ratio, bukan sekadar rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan tax ratio Indonesia yang masih rendah, kapasitas pelunasan utang menjadi terbatas dibanding negara maju.
Dalam kondisi risiko krisis, seperti tekanan energi yang dapat memicu kenaikan harga dan menekan daya beli, penambahan utang tanpa perhitungan matang berpotensi memperburuk beban fiskal. "Karena itu, pemerintah perlu lebih selektif dengan memastikan utang bersifat produktif, efisien dalam penggunaannya, dan mampu mendorong efek pengganda bagi perekonomian," ujar imron.
Kurangi Ketergantungan
Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf menilai kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada awal tahun ini perlu dicermati secara lebih kritis, terutama karena pertumbuhannya didorong oleh peningkatan utang pemerintah. Maruf memperingatkan ketergantungan pada aliran modal asing, termasuk melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional, membuat Indonesia rentan terhadap dinamika global.
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia, perubahan sentimen investor dapat berdampak langsung pada biaya pembiayaan dan stabilitas nilai tukar. "Kita harus waspada terhadap risiko sudden reversal. Ketika kepercayaan investor terganggu, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi bisa meningkat," ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (17/3).
Karena itu, dia menekankan pentingnya strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri, antara lain dengan meningkatkan efisiensi belanja negara dan mendorong pendalaman pasar keuangan domestik. "Kunci keberlanjutan fiskal bukan hanya pada kemampuan menarik utang, tetapi pada kemampuan negara membiayai dirinya sendiri secara lebih mandiri," tutur Maruf.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 mencapai 434,7 miliar dollar AS atau sekitar 7.389,9 triliun rupiah (kurs 17.000 rupiah per dollar AS) dengan pertumbuhan 1,7 persen (yoy), yang terutama didorong oleh peningkatan ULN sektor publik. ULN pemerintah tercatat 216,3 miliar dollar AS atau tumbuh 5,6 persen (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5 persen (yoy). Peningkatan ini dipicu oleh penarikan pinjaman luar negeri dan masuknya modal asing ke SBN internasional di tengah masih terjaganya kepercayaan investor. ers/SB/YK/E-10
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!