Gempa Megatrust Pacitan M6,2 Guncang Jawa Timur, Ternyata BMKG Sudah Beri Peringatan Sejak Sebulan Lalu!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar mengejutkan datang dari wilayah selatan Jawa Timur pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan konfirmasi resmi bahwa gempa bermagnitudo 6,2 yang melanda Kabupaten Pacitan adalah jenis gempa megathrust dengan kedalaman dangkal. Guncangan yang terjadi sekitar pukul 01.06 WIB ini memicu kepanikan luar biasa di berbagai kota besar karena getarannya terasa hingga Yogyakarta, Malang, bahkan Banjarnegara.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 58 kilometer. Berdasarkan analisis teknis, gempa ini punya mekanisme pergerakan naik atau thrusting yang memang menjadi ciri khas dari zona subduksi megathrust di selatan Pulau Jawa. Meski kekuatannya cukup besar, BMKG menyebutkan bahwa kita patut bersyukur guncangan tersebut tidak menyentuh magnitudo 7,0, karena jika lebih besar, risiko tsunami di pesisir selatan bakal sangat tinggi, nih Gen.
Hal yang bikin merinding, peringatan soal ancaman gempa di zona ini sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh BMKG sejak sebulan yang lalu. Pada awal Januari 2026, BMKG baru saja merilis daftar 13 segmen megathrust paling berbahaya di Indonesia yang punya potensi memicu gempa raksasa.
Ternyata, wilayah Jawa Timur memang masuk dalam radar utama zona merah tersebut. Daryono mengingatkan kalau Pacitan punya sejarah kelam terkait tsunami, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1840 dan 1859 silam. Secara geografis, posisi Pacitan yang punya banyak teluk dan pantai sempit justru bisa memperkuat kekuatan gelombang tsunami kalau terjadi gempa besar di masa depan. Jadi, kejadian Jumat dini hari kemarin seolah menjadi pengingat nyata dari daftar peringatan yang sudah dirilis sebulan lalu tersebut, nih Gen.
Update Dampak Kerusakan dan Wilayah Terdampak
Meskipun pemodelan BMKG menunjukkan kalau gempa kali ini tidak berpotensi tsunami, dampak kerusakannya tetap terasa di beberapa titik. Berdasarkan data dari BPBD Jawa Timur, gempa ini mengakibatkan satu rumah rusak berat di Pacitan, serta beberapa rumah rusak ringan di Wonogiri, Bantul, dan Sleman. Dilaporkan juga belasan warga di wilayah Bantul mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan saat berusaha menyelamatkan diri.
Skala intensitas guncangan kali ini memang cukup merata. Wilayah Pacitan, Bantul, dan Sleman merasakan getaran pada skala IV MMI (dirasakan banyak orang di dalam rumah). Sementara itu, wilayah seperti Kulon Progo, Malang, hingga Surakarta berada pada skala III MMI. Aktivitas seismik yang tinggi ini merupakan karakteristik alami Indonesia yang berada di jalur cincin api Pasifik, sehingga rentetan gempa sepanjang tahun memang tergolong sering terjadi.
Ingat Lagi Daftar 13 Segmen Megathrust yang Diwaspadai
Sebagai pengingat dari rilis BMKG sebulan lalu, Indonesia memiliki 13 segmen megathrust yang bisa memicu gempa bermagnitudo besar. Pemetaan ini dibuat bukan untuk bikin takut, tapi supaya kita makin siaga dengan mitigasi yang benar. Dilansir dari Koran Jakarta, berikut adalah beberapa wilayah dengan potensi magnitudo gila-gilaan:
-
Megathrust Aceh-Andaman: Potensi paling ngeri hingga M9,2.
-
Megathrust Mentawai-Siberut & Pagai: Potensi mencapai M8,9.
-
Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah & Jawa Timur: Ketiganya punya potensi hingga M8,7.
-
Megathrust Selat Sunda: Berpotensi memicu gempa M8,7 di dekat kawasan padat penduduk.
-
Megathrust Nias-Simeulue: Potensi guncangan M8,7.
-
Megathrust Papua: Potensi mencapai M8,7 di wilayah timur.
-
Megathrust Sumba & Enggano: Potensi antara M8,4 hingga M8,5.
BMKG menegaskan kalau rentetan gempa di tanah air sama sekali nggak ada hubungannya dengan gempa yang terjadi di Jepang. "Tidak ada sama sekali hubungan antara gempa di Jepang dan gempa di Indonesia, karena gempa di wilayah kita memang tergolong sering terjadi," tegas Daryono dalam pernyataannya awal Januari lalu. Kita sebagai warga yang tinggal di daerah rawan harus terus memperkuat kesiapsiagaan dan selalu memantau data ilmiah resmi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!