Pejabat Publik Diminta Stop Pamer Harta di Medsos, Ini Alasannya!

Pejabat Publik Diminta Stop Pamer Harta di Medsos, Ini Alasannya!
- (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, makin banyak kasus pejabat yang kena sorotan gara-gara gaya hidupnya di media sosial. Dari flexing mobil mewah, pamer tas branded, sampai unggahan liburan mahal, semua itu bikin masyarakat gerah. Padahal, di tengah kondisi ekonomi banyak orang yang lagi susah, aksi pamer harta dari orang yang gajinya dibiayai rakyat jelas menimbulkan pertanyaan besar.

Psikolog keluarga lulusan Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, ikut menyoroti fenomena ini. Ia menilai pejabat publik seharusnya bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, pamer kekayaan untuk validasi atau gengsi pribadi bukanlah hal yang pantas dilakukan seorang pejabat.

"Pejabat publik itu mestinya bijak dalam bermedia sosial, termasuk dalam hal ini membatasi diri untuk tidak pamer harta," ujar Sani, dilansir dari ANTARA. Ia menambahkan, ketika pejabat justru memamerkan gaya hidup glamor, itu bisa memicu rasa cemburu dan memperlihatkan sikap tidak peduli pada keadaan masyarakat.

Lebih jauh, Sani mengingatkan bahwa media sosial sebenarnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Misalnya membagikan aktivitas sosial, kegiatan positif, atau program kerja yang memang berdampak langsung pada masyarakat. "Kalau pamer kehidupan, kegiatan sosial boleh aja, malah bagus untuk mempromosikan dirinya," katanya.

Peringatan senada juga sempat disampaikan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Dalam rapat koordinasi bersama kepala daerah, Tito mengimbau para pejabat agar menerapkan gaya hidup sederhana dan menunda kegiatan seremonial yang kesannya cuma buang-buang uang. Menurutnya, di tengah kondisi sosial-ekonomi yang lagi berat, pejabat semestinya bisa lebih sensitif dan menunjukkan empati, bukan malah sebaliknya.

Fenomena flexing pejabat di media sosial memang selalu jadi bahan perdebatan. Di satu sisi, medsos memang wadah untuk menunjukkan gaya hidup. Tapi ketika itu dilakukan oleh pejabat publik, konsekuensinya jauh lebih besar. Publik bisa menilai bahwa mereka lebih sibuk pamer daripada fokus bekerja untuk rakyat.

Pada akhirnya, pesan yang bisa diambil sederhana, Gen: pejabat itu bukan selebgram. Jadi alangkah baiknya kalau medsos mereka dipakai untuk menebarkan hal-hal yang menginspirasi, bukan sekadar pamer kemewahan.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE