Rusia-AS Memanas, Trump Tempatkan 2 Kapal Selam Nuklir Dekat Rusia

Rusia-AS Memanas, Trump Tempatkan 2 Kapal Selam Nuklir Dekat Rusia
- (Dok. istimewa).

JAKARTA- Pengamat politik, Surokim Abdussalam, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin menunjukkan kepada Rusia bahwa AS tidak hanya ingin menjadi nomor satu dalam ekonomi tapi juga dalam percaturan kekuatan dunia.

"Trump ingin menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya AS menjadi nomor satu dalam perekonomian dunia maupun kekuatan militer," kata Abdussalam yang juga Wakil Rektor III, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu, Minggu (3/8), menanggapi pengiriman 2 kapal selam nuklir AS ke kawasan dekat Rusia

Menurut dia, sebenarnya Trump belum tentu ingin membuka perang dunia ketiga, tapi lebih ingin menyatakan bahwa Rusia jangan sekali-kali menganggap remeh AS karena bagaimanapun militernya adalah yang nomor satu di dunia.

"Selain punya arsenal nuklir yang cukup, militernya juga sudah kenyang pengalaman di berbagai medan tenpur global, baik perang konvensional maupun yang bersifat diam-diam dan menggunakan teknologi canggih," kata Rokhim.

Perang kata-kata antara Trump dengan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memanas akibat ocehan Medvedev tentang nuklir dan potensi perang Rusia-Ukraina bisa berkembang menjadi perang Rusia-AS. Trump langsung merespon dengan memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir sedekat mungkin dengan Rusia, Jumat pekan lalu.

"Ya, mereka berada dekat Rusia," kata Trump dalam wawancara dengan Newsmax mengenai lokasi kapal selam tersebut.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir AS ke wilayah yang tepat di tengah meningkatnya perang kata-kata dengan Medvedev.

"Mantan presiden yang sekarang memimpin salah satu dewan terpenting Rusia, Medvedev, mengatakan beberapa hal yang sangat buruk, berbicara tentang nuklir. Dan ketika Anda menyebut kata nuklir, saya berkata, Anda tahu, mata saya berbinar, dan saya berkata, 'Kita sebaiknya berhati-hati, karena itu ancaman terbesar.' Seharusnya dia tidak mengatakannya," tegas Trump.

"Dia suka bicara kurang ajar. Dia juga pernah mengatakan hal yang sama di masa lalu, dan kami selalu ingin siap. Jadi saya telah mengirim dua kapal selam nuklir ke wilayah ini. Saya hanya ingin memastikan bahwa kata-katanya hanyalah kata-kata dan tidak lebih dari itu," katanya kepada Newsmax.

Trump menegaskan kembali bahwa perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun tidak akan pernah terjadi jika ia menjadi presiden.

"Saya akan mengatakan ini: Itu adalah perang yang harus diakhiri. Itu adalah perang yang mengerikan," katanya kepada Newsmax.

Sebelumnya pada Senin, Medvedev mengecam Trump dengan memperingatkan bahwa meningkatnya tekanan presiden AS itu terhadap Kremlin terkait perang di Ukraina berisiko memicu konflik yang lebih luas, tidak hanya antara Rusia dan Ukraina, tetapi juga antara Rusia dan AS.

Dia menulis di X: "50 hari atau 10 … Dia harus ingat 2 hal: 1. Rusia bukan Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan ikuti Joe Biden!

Unggahan itu muncul setelah Trump mengancam Rusia pada Senin dengan sanksi dan tarif sekunder jika tidak mengakhiri perang di Ukraina dalam waktu "sekitar 10 atau 12 hari," jauh lebih awal dari batas waktu sebelumnya.

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE