Efek Domino Konflik Timur Tengah, Ekonomi RI Terancam? Ini Strateginya

Ancaman Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Energi dan Tekan Ekonomi Nasional

Efek Domino Konflik Timur Tengah, Ekonomi RI Terancam? Ini Strateginya
Ilustrasi Konflik di Timur Tengah. - (Dok. ISTIMEWA).

JAKARTA, GENVOICE.ID-Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai bukan lagi sekadar konflik regional. Situasi ini berpotensi memicu efek domino global, terutama jika ketegangan merembet ke Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

Pengamat menilai gangguan di jalur tersebut bisa mendorong lonjakan harga minyak internasional. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, kondisi ini berisiko menekan stabilitas ekonomi domestik, termasuk nilai tukar rupiah dan inflasi.

Ancaman Berlapis bagi Perekonomian

Menurut anggota DPR RI Azis Subekti, Selat Hormuz merupakan arteri energi global yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini berpotensi memicu kenaikan harga energi secara signifikan.

"Ketika Selat Hormuz masuk dalam pusaran konflik, dunia tidak lagi berbicara tentang perang terbatas. Dunia berbicara tentang risiko sistemik," ungkapnya pada Rabu (4/3/2026).

Lonjakan harga minyak diperkirakan akan merambat ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, industri, hingga harga pangan. Selain itu, premi asuransi pelayaran juga bisa naik dan rantai pasok global berpotensi terganggu.

"Dunia yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan geopolitik sebelumnya kembali dihadapkan pada ancaman inflasi dan perlambatan pertumbuhan," sambungnya.

Bagi Indonesia, dampaknya dinilai cukup nyata. Sebagai negara pengimpor minyak mentah dan energi strategis, kenaikan harga global dapat memperlebar tekanan pada neraca perdagangan serta memicu inflasi impor.

Strategi Pertama: Perkuat Diplomasi Aktif

Untuk menghadapi potensi krisis, Indonesia didorong mengambil langkah diplomasi yang lebih aktif di forum internasional. Tujuannya adalah mendorong de-eskalasi konflik dan membuka ruang dialog antar pihak yang bertikai.

Pendekatan ini menegaskan bahwa sikap netral Indonesia tidak berarti pasif. Sebaliknya, Indonesia diharapkan tetap menjaga jarak dari blok kekuatan sambil aktif berkontribusi menjaga stabilitas global, khususnya jalur energi dunia.

Strategi Kedua: Percepat Diversifikasi Energi

Selain langkah diplomatik, pembenahan di dalam negeri dinilai sama pentingnya. Krisis ini disebut sebagai momentum untuk mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat cadangan strategis nasional.

Reformasi subsidi agar lebih tepat sasaran serta percepatan investasi energi terbarukan menjadi agenda mendesak. Upaya ini dipandang penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi domestik.

Koordinasi fiskal dan moneter yang disiplin juga diperlukan, termasuk menyiapkan bantalan sosial bagi kelompok rentan agar guncangan global tidak berubah menjadi krisis di dalam negeri.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE