Memasuki Usia 30 Tahun, Kepadatan Tulang Mulai Terancam? Kenali Risiko Osteoporosis

Kepadatan tulang umumnya mencapai titik tertinggi pada awal usia 30-an sebelum menurun seiring pertambahan usia. Dokter mengingatkan pentingnya pemeriksaan dini, terutama bagi perempuan menjelang menopause.

Memasuki Usia 30 Tahun, Kepadatan Tulang Mulai Terancam? Kenali Risiko Osteoporosis
Ilustrasi osteoporosis. - (Dok. healthshots).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Banyak orang baru memikirkan kesehatan tulang ketika memasuki usia lanjut atau setelah mengalami cedera. Padahal, proses pengeroposan tulang bisa berlangsung secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang mudah dikenali sejak awal.

Kondisi tersebut dikenal sebagai osteoporosis, penyakit yang kerap disebut sebagai silent disease atau penyakit senyap. Seseorang bisa saja tidak menyadari kepadatan tulangnya sudah berkurang hingga mengalami patah tulang akibat benturan atau jatuh ringan.

Selama ini, tulang yang melemah sering dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, menjaga kesehatan tulang sebaiknya dilakukan sejak usia muda karena tubuh memiliki batas waktu untuk mencapai kepadatan massa tulang maksimal.

Kepadatan Tulang Mencapai Puncak pada Awal Usia 30-an

Dalam proses pertumbuhan, tubuh manusia membangun massa tulang hingga mencapai titik kepadatan tertinggi atau peak bone mass. Umumnya, puncak kepadatan tulang tersebut dicapai pada awal usia 30-an sebelum kemudian mengalami penurunan secara bertahap seiring bertambahnya usia.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi, dr Henry Suhendra, SpOT, Subsp.CO(K), dari Siloam Hospitals Mampang menjelaskan bahwa osteoporosis sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru mengetahui kondisi tulangnya bermasalah setelah mengalami patah tulang.

"Yang orang udah tahu itu biasanya yang primer. Yang primer itu disebut silent disease, diem-diem dia nggak tahu. Jatuh, patah, baru tahu. Oh, ini osteoporosis," jelas Henry ketika ditemui wartawan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Karena tidak selalu menimbulkan rasa sakit atau perubahan fisik yang terlihat, osteoporosis dapat berkembang tanpa disadari. Kondisi ini membuat pemeriksaan kesehatan tulang menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko tertentu.

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Osteoporosis

Risiko osteoporosis tidak sama pada setiap orang. Perempuan termasuk kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan tulang karena perubahan hormon estrogen saat memasuki masa menopause dapat meningkatkan risiko kehilangan massa tulang.

Penurunan hormon estrogen berpengaruh terhadap proses pembentukan dan pemeliharaan jaringan tulang. Ketika kadar hormon tersebut menurun, proses pengeroposan tulang dapat berlangsung lebih cepat sehingga perempuan perlu mempertimbangkan pemeriksaan kepadatan tulang sejak sebelum menopause.

Henry menyarankan perempuan melakukan pemeriksaan kepadatan tulang sekitar lima tahun sebelum memasuki masa menopause. Langkah tersebut bertujuan mengetahui kondisi tulang lebih awal sehingga potensi risiko osteoporosis dapat dipetakan sebelum berkembang menjadi masalah serius.

"Jadi, 5 tahun sebelum menopause itu harusnya periksa," katanya.

Pemeriksaan BMD untuk Mendeteksi Pengeroposan Tulang

Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kepadatan tulang adalah Bone Mineral Density (BMD). Pemeriksaan ini membantu mengukur kepadatan mineral tulang sehingga tenaga medis dapat menilai kondisi tulang dan memperkirakan risiko osteoporosis.

Deteksi dini menjadi penting karena pengeroposan tulang yang tidak diketahui dapat meningkatkan risiko patah tulang. Cedera tersebut bukan hanya berdampak terhadap aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan kebutuhan perawatan medis dan biaya pengobatan yang besar.

Masyarakat pun diimbau tidak menunggu sampai mengalami jatuh atau patah tulang untuk mulai memperhatikan kondisi kerangka tubuh. Pemeriksaan dan langkah pencegahan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tulang dalam jangka panjang.

Jangan Tunggu Patah Tulang untuk Mulai Waspada

Menurut Henry, pencegahan perlu menjadi perhatian utama karena penanganan osteoporosis yang sudah menimbulkan komplikasi dapat membutuhkan biaya tidak sedikit. Terlebih, patah tulang pada orang dengan kepadatan tulang rendah bisa berdampak terhadap mobilitas dan kualitas hidup.

"Karena semua kan selalu saya bilang, pencegahan itu lebih baik daripada pengobatan. Kalau udah osteoporosis, lu jatuh, patah. Siap-siap lu keluar duit banyak. Intinya itu sih," tuturnya.

Karena itu, menjaga kesehatan tulang sebaiknya tidak hanya menjadi perhatian ketika seseorang sudah berusia lanjut. Kesadaran sejak muda, pemeriksaan sesuai faktor risiko, serta konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu seseorang memahami kondisi tulangnya lebih awal.

Mengingat kepadatan tulang umumnya mencapai puncak pada awal usia 30-an, periode tersebut menjadi pengingat penting untuk mulai memperhatikan kesehatan kerangka tubuh. Terutama bagi perempuan yang mendekati menopause, pemeriksaan dini dapat membantu mengenali risiko osteoporosis sebelum terjadi patah tulang.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE