Pedri dan De Jong Mandek, Lini Tengah Barcelona Jadi Biang Kekalahan dari PSG

Pedri dan De Jong Mandek, Lini Tengah Barcelona Jadi Biang Kekalahan dari PSG
- (Dok. Detik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Barcelona kembali menelan hasil pahit di Liga Champions usai tumbang 1-2 dari Paris Saint-Germain di Estadi Olimpic Lluis Companys, Rabu (1/10) malam. Sorotan bukan hanya tertuju pada gol telat Goncalo Ramos yang mengakhiri laga, melainkan juga rapuhnya lini tengah Barca yang gagal memberi kontrol permainan.

Sejak awal, Blaugrana sebenarnya menunjukkan agresivitas lewat Marcus Rashford dan Lamine Yamal di sektor sayap. Rashford bahkan mencetak assist untuk gol pembuka Ferran Torres. Namun, setelah keunggulan itu, Barcelona kesulitan mempertahankan tempo karena jantung permainan mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pedri dan Frenkie de Jong yang diharapkan menjadi otak serangan justru terlihat kesulitan keluar dari tekanan tinggi PSG. Aliran bola terputus di lini tengah, membuat Robert Lewandowski sering terisolasi tanpa suplai berarti. Situasi ini dimanfaatkan PSG untuk perlahan mengambil alih kendali.

Gol penyeimbang dari Senny Mayulu jadi bukti bagaimana Barcelona gagal menutup ruang di area tengah. Nuno Mendes dengan mudah melakukan penetrasi sebelum memberi umpan matang, sementara gelandang-gelandang Barca terlambat melakukan antisipasi.

Di babak kedua, masalah serupa berulang. PSG semakin percaya diri memainkan pressing ketat, sementara Barcelona kehilangan kreativitas. Statistik menunjukkan lini tengah Blaugrana hanya sedikit menciptakan peluang progresif, dengan mayoritas serangan bergantung pada improvisasi Rashford dan Yamal dari sisi sayap.

Puncaknya, saat stamina menurun, celah di tengah semakin terlihat. Achraf Hakimi mendapat ruang untuk melakukan overlap, lalu mengirimkan umpan akurat ke Goncalo Ramos yang akhirnya mencetak gol kemenangan di menit ke-90.

Kekalahan ini membuka kembali perdebatan lama soal rapuhnya lini tengah Barcelona di level Eropa. Tanpa kehadiran gelandang yang benar-benar bisa mendikte ritme seperti era Xavi-Iniesta, Barca kerap gagal menjaga stabilitas permainan saat lawan meningkatkan intensitas.

PSG pun memanfaatkan kelemahan itu dengan sempurna. Meski datang pincang tanpa beberapa bintang utama, skuad asuhan Luis Enrique tetap bisa menunjukkan dominasi berkat kerja kolektif terutama dari sektor full-back dan gelandang muda yang energik.

Jika tidak segera berbenah, Barcelona berisiko mengulang cerita lama: tampil menjanjikan di fase awal, lalu tersingkir karena gagal mengontrol lini tengah di momen-momen krusial Liga Champions.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE