Dampak Media Sosial Bagi Remaja, Psikolog Bocorkan Bahaya Algoritma yang Bikin Kecanduan dan Boros

Dampak Media Sosial Bagi Remaja, Psikolog Bocorkan Bahaya Algoritma yang Bikin Kecanduan dan Boros
- (Dok. Freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Penggunaan gawai dan akses ke dunia digital yang tidak terkontrol kini menjadi perhatian serius bagi banyak kalangan, terutama mengenai pengaruhnya terhadap perkembangan mental anak muda. Di tengah gempuran tren yang terus berganti setiap detik, banyak dari kita yang mungkin tidak menyadari bahwa aktivitas scrolling tanpa henti di layar ponsel sebenarnya menyimpan risiko yang cukup besar bagi pembentukan karakter dan perilaku sehari-hari.

Berbagai platform digital saat ini sudah sangat cerdas dalam mengikat perhatian penggunanya, sehingga melepaskan diri dari layar gawai menjadi tantangan yang semakin berat dari waktu ke waktu. Hal ini bukan lagi sekadar soal menghabiskan waktu luang, melainkan sudah menyentuh aspek psikologis yang mendalam, mulai dari cara kita berpikir, cara berinteraksi dengan orang lain, hingga cara kita mengelola keinginan untuk membeli sesuatu secara impulsif.

Fenomena ini tentu saja memicu kekhawatiran karena masa remaja adalah periode krusial di mana seseorang sedang mencari jati diri dan membangun kemandirian. Jika sebagian besar waktu hanya dihabiskan untuk menatap layar tanpa adanya filter yang jelas, maka potensi gangguan pada perkembangan sosial dan kemampuan berpikir kritis bisa menjadi ancaman yang nyata di masa depan. Oleh karena itu, penting banget bagi Gen untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar ponsel kalian agar tidak terjebak dalam lingkaran digital yang merugikan.

Algoritma yang Mengunci Dunia Remaja dan Bahaya Konsumtif

Psikolog anak ternama, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., atau yang akrab disapa Bunda Romi, menjelaskan bahwa sistem algoritma di media sosial sebenarnya adalah jebakan yang membuat duniamu jadi sangat sempit. Saat kalian sering melihat konten tertentu, sistem akan terus menyodorkan hal serupa secara berulang-ulang tanpa henti.

"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," katanya saat dihubungi pada Jumat (13/3).

Hal ini tidak hanya membuat remaja susah lepas dari gadget, tapi juga memicu sifat boros. Kemudahan transaksi digital bikin belanja jadi terasa sangat gampang dan tidak terlihat fisiknya. "Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat," tambah Prof. Rose. Inilah yang akhirnya bikin remaja jadi gampang bertindak impulsif alias asal klik beli tanpa mikir panjang.

Instant Reward dan Pencarian Validasi di Media Sosial

Senada dengan hal itu, psikolog Alva Paramitha, S.Psi., menjelaskan bahwa ketertarikan remaja pada konten singkat seperti TikTok atau Reels Instagram ada hubungannya dengan cara kerja otak. Video pendek dan notifikasi yang muncul terus-menerus memberikan rangsangan cepat atau instant reward yang sangat disukai oleh otak remaja yang masih berkembang.

"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," kata Alva.

Selain itu, media sosial sering dijadikan tempat untuk mencari pengakuan. Saat mendapatkan banyak likes atau komentar positif, remaja merasa divalidasi dan diterima oleh lingkungannya. "Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif," ujarnya. Meskipun pemerintah sudah mulai membatasi akses platform digital untuk anak di bawah 16 tahun, peran orang tua tetap jadi kunci utama agar teknologi ini bisa digunakan secara sehat dan nggak bikin perkembangan kreativitas jadi terhambat.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE