Tragis! Diduga Sering Di-bully, Pelajar SMP di Lampung Tusuk Teman Sekolahnya Hingga Tewas
Dampak Fatal Bullying: Pelaku Ambil Gunting Setelah Meja Ditendang Korban
JAKARTA, GENVOICE.ID - Tragedi memilukan kembali terjadi di lingkungan sekolah! Seorang pelajar SMP di Pesisir Barat, Lampung, meninggal dunia usai ditusuk gunting oleh teman sekelasnya sendiri.
Insiden yang terjadi pada 29 September 2025 ini diduga dipicu oleh kasus perundungan (bullying) yang dilakukan korban terhadap pelaku. Kepolisian kini tengah mendalami motif pembunuhan yang melibatkan pelajar di bawah umur ini.
Korban, yang bernama Julian Saputra (13), meninggal dunia setelah ditusuk menggunakan gunting oleh teman sekelasnya, yang berinisial SR (13). Kejadiannya cepat dan mengerikan. Kasus ini kembali menyoroti darurat bullying di sekolah dan dampak emosional yang bisa berujung fatal.
Berawal dari Aksi Perundungan?
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari, mengonfirmasi insiden ini. Berdasarkan keterangan awal yang didapatkan polisi, insiden ini bermula saat korban, Julian, mendatangi ruang kelas SR dalam keadaan emosi. Julian dikabarkan langsung menendang meja belajar SR dan mengajaknya berkelahi.
SR, yang tidak terima dengan perlakuan tersebut, langsung mengambil gunting dari laci mejanya dan menusuk Julian di beberapa bagian tubuh, termasuk mata kanan, kepala belakang, dan punggung. Julian Saputra meninggal dunia di tempat akibat luka tusuk yang parah.
Ada Dugaan Bullying?
Yang membuat kasus ini makin kompleks adalah keterangan dari beberapa saksi di lokasi. Mereka menyebut bahwa Julian Saputra dikenal sering melakukan perundungan (bullying) terhadap SR dan sering mengajaknya berkelahi.
Meskipun dugaan bullying ini masih didalami oleh kepolisian setempat, kasus ini kembali membuka mata kita betapa seriusnya dampak perundungan di lingkungan sekolah. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku, SR, diduga adalah puncak dari akumulasi emosi akibat perlakuan Julian sebelumnya.
Saat ini, kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam, mengumpulkan bukti, dan meminta keterangan dari saksi-saksi untuk memastikan motif di balik aksi tragis yang merenggut nyawa pelajar berusia 13 tahun ini. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang pentingnya kesehatan mental dan lingkungan sekolah yang aman bagi setiap pelajar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!