Drama Trump vs Rusia Bikin Harga Minyak Naik! China dan India Dapat Ancaman Tarif Tambahan
Kebijakan Agresif Trump Bikin Harga Minyak Dunia Meroket, Pasar Global Langsung Panas
JAKARTA, GENVOICE.ID - Harga minyak mentah dunia kembali bikin geger pasar global. Penyebabnya? Tentu saja aksi kontroversial Presiden AS Donald Trump yang semakin agresif dalam menekan Rusia soal perang Ukraina.
Dalam pernyataannya baru-baru ini, Trump menetapkan tenggat 10 sampai 12 hari untuk Rusia agar segera menyelesaikan konfliknya, atau siap-siap mitra dagang mereka kena tarif tambahan hingga 100%! Gak main-main, China dan India juga disorot tajam.
Efek dari drama geopolitik ini langsung terasa di pasar. Harga minyak jenis Brent untuk pengiriman September naik 73 sen alias 1,01%, jadi US$73,24 per barel. Sementara minyak WTI dari AS juga melesat 79 sen atau 1,14% ke angka US$70 per barel. Bahkan kontrak Brent aktif untuk Oktober pun ikut-ikutan naik jadi US$72,47 per barel.
Di sisi lain, AS gak cuma memberikan deadline untuk Rusia. Mulai 1 Agustus, tarif impor barang dari India resmi naik jadi 25%. Plus, ada sanksi baru buat negara-negara yang masih nekat membeli senjata atau minyak dari Rusia. China pun mendapat peringatan keras dari AS untuk berhenti membeli minyak dari Moskow atau bersiap terkena tarif gede-gedean.
Meski begitu, analis JP Morgan memprediksi China bakal cuek dengan sanksi AS. Tapi India? Kelihatannya bakal nurut. Ini penting karena ekspor minyak Rusia ke India lumayan besar, bisa sampai 2,3 juta barel per hari. Jadi, kalau India mundur, pasokan global bisa terganggu dan harga bakal makin naik.
Tapi ada satu hal yang bikin investor berpikir dua kali. Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS justru naik tajam, 7,7 juta barel! Jauh dari perkiraan penurunan. Walaupun stok bensin turun, stok distilat seperti solar justru naik lebih dari ekspektasi.
Di tengah gejolak ini, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II/2025 kelihatan membaik, tapi penyebabnya bukan karena lonjakan konsumsi dalam negeri, melainkan karena impor yang anjlok. Permintaan domestik justru tumbuh paling lambat dalam 2,5 tahun terakhir.
Sementara itu, The Fed masih menahan suku bunga dan belum memberikan sinyal yang jelas mengenai penurunan pada September nanti. Kata Jerome Powell, masih terlalu dini untuk memutuskan hal itu.
Kenaikan harga minyak dunia ini menunjukkan betapa besar pengaruh geopolitik terhadap pasar global. Langkah agresif Presiden Trump dalam menekan Rusia serta dampaknya terhadap negara-negara besar seperti China dan India, menjadi sorotan utama yang bisa terus memengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Di sisi lain, lonjakan stok minyak AS dan pertumbuhan ekonomi yang melambat bisa menjadi faktor penyeimbang, tapi untuk saat ini, pelaku pasar harus tetap waspada dengan dinamika politik dan kebijakan global yang terus berubah.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!