Modifikasi Cuaca Terus Dilakukan, Pakar Ingatkan Dampak Negatif Jangka Panjang

Modifikasi Cuaca Terus Dilakukan, Pakar Ingatkan Dampak Negatif Jangka Panjang
- (Dok. Tempo).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta kembali melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem. Meski dinilai efektif dalam menekan risiko hujan lebat di wilayah tertentu, langkah ini menyimpan sejumlah dampak negatif yang patut menjadi perhatian jika dilakukan secara berulang dan dalam jangka panjang.

OMC bekerja dengan cara menyemai awan menggunakan bahan kimia seperti kalsium oksida (CaO) dan natrium klorida (NaCl) agar hujan turun lebih cepat di wilayah yang dianggap aman, seperti perairan. Namun, intervensi terhadap proses alami atmosfer ini berpotensi memengaruhi keseimbangan pola cuaca regional.

Salah satu dampak yang kerap disorot adalah pergeseran distribusi hujan. Ketika hujan "dipindahkan" dari satu wilayah, daerah lain berisiko menerima curah hujan lebih tinggi. Jika tidak dikoordinasikan lintas daerah, kondisi ini dapat memicu bencana hidrometeorologi di wilayah sekitar Jakarta, terutama kawasan pesisir dan daerah penyangga.

Selain itu, penggunaan OMC secara berkelanjutan berpotensi menimbulkan ketergantungan pada solusi teknis jangka pendek. Upaya mitigasi struktural seperti perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, penataan ruang, serta perlindungan daerah resapan air bisa terpinggirkan jika modifikasi cuaca terus dijadikan andalan utama.

Dari sisi lingkungan, meski bahan semai yang digunakan dinilai relatif aman, akumulasi residu kimia dalam jangka panjang tetap menjadi kekhawatiran. Dampaknya terhadap ekosistem perairan dan kualitas lingkungan belum sepenuhnya dipahami, terutama jika operasi dilakukan secara intensif dalam waktu lama.

Efektivitas OMC juga memiliki keterbatasan. Operasi ini sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang mendukung. Dalam situasi cuaca ekstrem berskala besar, modifikasi cuaca tidak selalu mampu menahan hujan lebat, sehingga berisiko menimbulkan ekspektasi publik yang berlebihan terhadap hasilnya.

Sejumlah pengamat menilai, modifikasi cuaca seharusnya diposisikan sebagai langkah darurat, bukan solusi permanen. Tanpa dibarengi kebijakan jangka panjang yang menyentuh akar persoalan lingkungan dan tata kota, OMC berisiko menjadi penanganan sesaat yang menunda penyelesaian masalah banjir dan cuaca ekstrem secara menyeluruh.

Dengan intensitas cuaca ekstrem yang diprediksi meningkat akibat perubahan iklim, evaluasi menyeluruh terhadap dampak negatif modifikasi cuaca dinilai semakin mendesak agar kebijakan penanggulangan bencana tidak justru menimbulkan masalah baru di masa depan.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE