Pierre Tendean: Kisah Heroik Perwira Muda Berdarah Prancis yang Rela Gugur Demi Lindungi Jenderal Nasution
Siapa Sebenarnya Pierre Tendean? Mengenal Sosok Pahlawan Revolusi Termuda
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kisah heroik Kapten Pierre Tendean selalu menjadi sorotan setiap kali tragedi G30S/PKI diperingati.
Kapten Pierre Tendean, Perwira muda berdarah Prancis ini dikenang sebagai Pahlawan Revolusi yang gugur di usia 26 tahun setelah rela menukar nyawanya demi melindungi Jenderal AH Nasution dari penculikan pasukan Tjakrabirawa.
Jasad Pierre Tendean ditemukan di Lubang Buaya bersama enam jenderal lainnya, menjadikannya korban termuda dalam peristiwa kelam 1 Oktober 1965.
Saat pasukan Tjakrabirawa menyerbu, Pierre mengaku sebagai Nasution, ditangkap, dan akhirnya gugur di Lubang Buaya. Siapa sih sosok yang dijuluki Pahlawan Revolusi ini?
- Makna Nama 'Pierre': Seberat Batu
Pierre Tendean lahir 21 Februari 1939 dari ayah dokter berdarah Minahasa dan ibu keturunan Belanda-Prancis. Nama 'Pierre' yang berarti kuat bagaikan batu adalah doa kedua orang tuanya agar ia tegar memegang prinsip.
Menariknya, masa kecilnya dihabiskan di berbagai kota, dari Jakarta, Tasik, Cisarua, hingga Magelang dan Semarang. Ia dikenal ramah dan mudah bergaul, menamatkan SD hingga SMA di tengah masa revolusi.
- Tolak Jadi Dokter, Pilih Jadi Tentara
Meskipun sang ayah adalah seorang dokter, Pierre memilih jalur militer. Orang tuanya sempat khawatir karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki. Untuk melegakan hati orang tuanya, Pierre mendaftar ke Fakultas Kedokteran UI dan ITB.
Namun, ia sengaja tidak lulus agar bisa diterima di Akademi Militer Jurusan Teknik (Akmil Jurtek), sesuai saran Jenderal Nasution.
- Tiga Kali Menyusup ke Malaysia (Operasi Dwikora)
Pada era Konfrontasi (Dwikora) melawan Malaysia di tahun 1960-an, Pierre menunjukkan kehebatannya sebagai prajurit intelijen.
Ia berhasil menyusup ke daratan Malaysia hingga tiga kali dengan menyamar sebagai turis dan merebut senjata musuh. Keberaniannya bahkan membuatnya nyaris tertangkap kapal perang Inggris saat infiltrasi ketiga, namun ia lolos dengan berenang.
- Jadi Rebutan Tiga Jenderal, Nasution yang Menang
Kiprahnya membuat Pierre dilirik banyak petinggi. Ia sempat jadi rebutan tiga jenderal (Nasution, Hartawan, dan Dendi Kadarsan) untuk dijadikan ajudan. Akhirnya, Jenderal AH Nasution-lah yang menang. Sejak April 1965, Lettu Pierre Tendean menjadi ajudan termuda Jenderal Nasution, dan tinggal bersama keluarga jenderal.
- Kisah Cinta Tragis dengan Rukmini
Pierre gugur tak lama sebelum ia menikah. Ia sudah melamar kekasihnya, Rukmini, yang ia kenal saat bertugas di Medan. Mereka berencana menikah pada Desember 1965, tetapi takdir berkata lain.
Pengorbanannya menyelamatkan Nasution membuatnya diculik. Pasukan Tjakrabirawa mengira dirinya adalah Nasution karena ia refleks berkata, "Saya ajudan Nasution," yang terdengar seperti "Saya Nasution." Pierre ditemukan tewas di Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965.
Pengorbanan Kapten Pierre Tendean di tengah tragedi G30S/PKI adalah kisah keberanian yang tak lekang oleh waktu. Rela mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi Jenderal AH Nasution, perwira berdarah Prancis ini meninggalkan warisan ketegasan sesuai makna namanya.
Pierre Tendean bukan hanya tercatat sebagai korban termuda yang gugur di Lubang Buaya, tetapi juga simbol kesetiaan seorang ajudan yang menjunjung tinggi sumpah prajurit. Kisah hidup sang Pahlawan Revolusi ini akan terus menjadi pengingat akan beratnya harga sebuah kemerdekaan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!