Heboh! Inggris Ancam Akui Palestina di PBB Jika Israel Gagal Perbaiki Krisis Gaza
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, tensi politik global makin memanas! Kali ini, Inggris bikin gebrakan besar soal konflik Palestina dan Israel. Perdana Menteri Keir Starmer bikin pernyataan yang langsung bikin dunia internasional menoleh: Inggris bakal mengakui Palestina secara resmi, dan itu bisa terjadi secepatnya bulan September nanti di Sidang Umum PBB!
Tapi tunggu dulu, pernyataan ini datang bukan tanpa syarat. Starmer menegaskan kalau Inggris hanya akan ambil langkah tersebut jika Israel gagal menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki situasi yang makin parah di Jalur Gaza. "Saya dapat memastikan bahwa Inggris akan mengumumkan pengakuan terhadap negara Palestina dalam Sidang Umum PBB pada September ini," ujar Starmer tegas.
Syaratnya juga nggak main-main, Gen. Mulai dari menghentikan pengeboman, menyetujui gencatan senjata, sampai memberi akses penuh bagi PBB untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Selain itu, Israel juga harus berkomitmen untuk tidak mencaplok wilayah Tepi Barat dan mulai bergerak ke arah solusi dua negara.
Keputusan Starmer ini muncul nggak lama setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungan serupa. Bahkan, lebih dari 250 anggota parlemen Inggris juga mendesak pengakuan penuh terhadap Palestina sebagai bentuk solidaritas atas krisis kemanusiaan yang terjadi.
Starmer bilang kalau pengakuan terhadap Palestina adalah langkah konkret menuju perdamaian. Ia percaya bahwa negara Israel yang aman bisa hidup berdampingan dengan Palestina yang merdeka dan berdaulat. Tapi, syaratnya satu: Israel harus serius membuka jalan menuju solusi damai, bukan malah memperburuk konflik.
Di sisi lain, Starmer juga mendesak agar kelompok Hamas segera membebaskan para sandera, setuju dengan gencatan senjata, dan menyerahkan senjata mereka. "Mereka tak akan memiliki peran apapun dalam pemerintahan di Gaza," ujarnya.
Sayangnya, keputusan ini langsung memicu kemarahan dari pihak Israel. Pemerintah Israel menganggap pernyataan Inggris sebagai "hadiah untuk Hamas" dan justru dianggap menghambat proses damai. Sementara itu, serangan Israel ke Gaza sejak Oktober 2023 sudah menewaskan lebih dari 60 ribu warga Palestina-kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.
Situasi di Gaza makin parah. Wilayah itu dibombardir tanpa henti, stok makanan makin langka, dan infrastruktur luluh lantak. Bahkan Mahkamah Pidana Internasional sudah mengeluarkan surat penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menhan Yoav Gallant atas kejahatan perang di wilayah tersebut.
Sekarang, dunia menunggu: apakah Israel akan tunduk pada tekanan internasional atau malah terus melawan arus? Satu yang pasti, langkah Inggris ini bakal jadi penentu besar arah konflik Israel-Palestina ke depan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!