Rashford vs Gordon Bisa Jadi Penentu Nasib Inggris di Piala Dunia Tahun Ini!

Rashford vs Gordon Bisa Jadi Penentu Nasib Inggris di Piala Dunia Tahun Ini!
- (Dok. AP Photo).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, tetapi Timnas Inggris sudah menghadapi tantangan yang tak hanya datang dari lawan di atas lapangan. Di balik ambisi besar meraih gelar juara dunia, skuad The Three Lions kini dihadapkan pada persaingan internal yang mulai mencuri perhatian, yakni duel Marcus Rashford dan Anthony Gordon.

Kedua pemain sama-sama memburu satu tempat di sektor kiri lini serang Inggris. Situasi ini semakin menarik setelah Anthony Gordon resmi bergabung dengan Barcelona pada bursa transfer musim panas 2026. Transfer besar tersebut bukan hanya mengubah peta persaingan di level klub, tetapi juga berpotensi memengaruhi suasana di dalam skuad Inggris selama Piala Dunia berlangsung.

Kepindahan Gordon ke raksasa Spanyol itu menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi Rashford. Pasalnya, penyerang Manchester United tersebut sebelumnya menjalani masa peminjaman yang cukup sukses bersama Barcelona. Dalam 49 pertandingan, Rashford mampu mencatatkan 14 gol dan 11 assist, membuat peluang bertahan secara permanen sempat terbuka lebar.

Namun situasi berubah drastis setelah Barcelona mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan Gordon. Sejumlah laporan menyebut peluang Rashford dipermanenkan kini semakin kecil. Hingga mendekati tenggat keputusan transfer, belum ada tanda-tanda Barcelona akan menebus pemain berusia 28 tahun tersebut.

Kondisi ini membuat persaingan keduanya semakin menarik. Di satu sisi mereka merupakan rival untuk posisi yang sama, tetapi di sisi lain mereka harus bekerja sama demi membawa Inggris melangkah jauh di Piala Dunia 2026.

Sebenarnya, rivalitas seperti ini bukan hal baru dalam sepak bola. Sejarah mencatat banyak pemain yang harus bersaing di level klub dan tim nasional secara bersamaan. Inggris sendiri saat ini juga memiliki persaingan lain seperti Bukayo Saka dan Noni Madueke yang berebut tempat di sisi kanan serangan.

Di masa lalu, Belanda pernah menghadapi situasi serupa melalui Wesley Sneijder dan Rafael van der Vaart. Keduanya sama-sama pemain kreatif yang memperebutkan peran penting di tim nasional. Spanyol juga pernah mengalami cerita serupa ketika Dani Carvajal perlahan mengambil tempat Alvaro Arbeloa di klub maupun tim nasional.

Bagi Inggris, kisah rivalitas internal bahkan pernah menjadi masalah besar. Generasi emas yang dihuni nama-nama seperti David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Rio Ferdinand hingga Wayne Rooney gagal memenuhi ekspektasi di Piala Dunia 2006. Salah satu faktor yang sering dibahas adalah kurangnya kekompakan akibat rivalitas pemain dari berbagai klub besar Inggris.

Beruntung, kondisi skuad Inggris saat ini dinilai jauh lebih sehat. Perubahan budaya yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan antarpemain menjadi lebih cair. Para pemain kini lebih mudah beradaptasi dan membangun chemistry meski berasal dari klub berbeda.

Thomas Tuchel pun menyadari bahwa kesuksesan di Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu. Membangun kebersamaan dan identitas tim menjadi aspek yang sama pentingnya.

Karena itu, persaingan Rashford dan Gordon bisa menjadi ujian tersendiri bagi Inggris. Jika mampu dikelola dengan baik, rivalitas tersebut dapat meningkatkan kualitas tim. Namun jika tidak, bukan tidak mungkin hal itu justru menjadi gangguan dalam perjalanan mereka mengejar trofi Piala Dunia 2026.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE