Profil Usmar Ismail Bapak Film Nasional, Sosok Jenius Di Balik Sejarah Perayaan Hari Film Nasional 30 Maret!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap tanggal 30 Maret, kita semua merayakan Hari Film Nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya hebat sineas tanah air yang makin ke sini makin mendunia. Tapi, tahukah kamu kalau tanggal tersebut nggak asal pilih? Ada sejarah besar dan sosok visioner yang bener-bener jadi tulang punggung lahirnya identitas sinema kita.
Nama tokoh legendaris itu adalah Usmar Ismail, pria yang dijuluki sebagai Bapak Film Nasional karena jasa-jasanya yang nggak terukur dalam meletakkan batu pertama industri perfilman Indonesia modern. Tanpa visi dan keberaniannya, mungkin saja wajah perfilman kita nggak akan sekuat sekarang.
Sosok Usmar bukan cuma seorang sutradara biasa, melainkan seorang intelektual yang percaya bahwa film adalah medium paling sakti untuk menunjukkan jati diri sebuah bangsa yang baru merdeka. Perjalanan hidupnya bener-bener inspiratif, mulai dari masa muda yang penuh dengan kegiatan seni di sekolah hingga akhirnya ia nekat mendirikan rumah produksi sendiri demi membuat film yang bener-bener murni buatan anak negeri. Semangatnya untuk lepas dari bayang-bayang film asing pada masa itu menjadi kobaran api yang terus membakar semangat para pembuat film generasi milenial dan Gen Z saat ini nih Gen.
Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 20 Maret 1921, Usmar Ismail tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat terpelajar. Ayahnya adalah seorang guru, sementara kakaknya, Abu Hanifah, juga merupakan tokoh sastra yang cukup diperhitungkan.
Darah seni dan intelektual memang sudah mengalir deras dalam tubuhnya sejak kecil. Usmar menempuh pendidikan yang sangat mentereng pada zamannya, mulai dari HIS di Batusangkar, MULO di Padang, hingga AMS di Yogyakarta.
Nggak puas sampai di situ, saking cintanya sama dunia visual, ia bahkan terbang jauh ke Amerika Serikat untuk belajar ilmu perfilman di University of California, Los Angeles (UCLA). Bekal ilmu dari luar negeri inilah yang kemudian ia bawa pulang untuk membangun fondasi sinema yang lebih profesional di Indonesia.
Sebelum banting setir sepenuhnya ke dunia seluloid, Usmar ternyata punya riwayat karier yang sangat berwarna. Ia pernah menjadi seorang jurnalis bahkan sempat menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Karena aktivitas jurnalistiknya yang vokal, ia bahkan pernah merasakan dinginnya sel tahanan Belanda pada tahun 1948.
Selain itu, ia juga aktif di dunia teater dan mendirikan kelompok sandiwara 'Maya' pada 1943 bersama tokoh-tokoh hebat lainnya. Pengalaman di dunia tulis-menulis dan panggung sandiwara inilah yang mengasah insting berceritanya menjadi sangat tajam saat mulai menyutradarai film.
Puncak sejarah itu terjadi pada 30 Maret 1950. Hari itu menjadi momen keramat karena Usmar Ismail resmi mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) dan memulai syuting pertama film 'Darah dan Doa'. Kenapa film ini dianggap sangat spesial? Karena itulah pertama kalinya sebuah film diproduksi sepenuhnya oleh orang-orang Indonesia, mulai dari sutradara, kru, hingga urusan teknis lainnya.
Peristiwa bersejarah ini kemudian dikukuhkan lewat Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999 sebagai Hari Film Nasional. Setelah itu, karya-karya legendaris terus lahir dari tangan dinginnya, sebut saja 'Enam Jam di Yogya', 'Tiga Dara' yang sangat ikonik, hingga 'Pejuang'.
Meski Usmar Ismail telah wafat pada 2 Januari 1971, namun namanya abadi sebagai identitas Pusat Perfilman Usmar Ismail di Jakarta. Ia adalah pahlawan yang mengajarkan kita bahwa film bukan sekadar hiburan, tapi adalah harga diri bangsa. Kini, tugas kita adalah meneruskan semangatnya agar film Indonesia terus berjaya di panggung internasional.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!