Nepal Tolak Bantuan 8 Negara untuk Evakuasi Korban Banjir dan Longsor

Pemerintah Nepal menilai tentara dan polisi nasional masih mampu menangani pencarian serta evakuasi korban bencana di perbatasan Nepal-Tibet.

Nepal Tolak Bantuan 8 Negara untuk Evakuasi Korban Banjir dan Longsor
Banjir Bandang di Nepal. - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Nepal memutuskan menolak tawaran bantuan asing untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban banjir serta longsor yang terjadi pada Rabu (26/8/2026). Pemerintah menilai kemampuan tentara dan kepolisian nasional masih cukup untuk menjalankan operasi penyelamatan di wilayah terdampak.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengatakan tawaran bantuan dari negara lain merupakan hal yang wajar dalam situasi bencana. Namun, untuk saat ini Nepal merasa belum membutuhkan pengerahan tim penyelamat dari negara asing.

"Tawaran bantuan itu wajar. Namun, badan keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini, kami tidak membutuhkan bantuan seperti itu," ujar Lok Bahadur Chhetri pada Jumat (28/8/2026).

Delapan Negara Tawarkan Bantuan ke Nepal

Keputusan Nepal tersebut muncul setelah sejumlah negara menyatakan kesediaannya untuk membantu penanganan bencana. Bantuan yang ditawarkan mencakup pengerahan personel penyelamat untuk mendukung proses pencarian dan evakuasi korban.

Sedikitnya delapan negara telah menawarkan bantuan kepada Nepal, yakni India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Sri Lanka, Bangladesh, dan Korea Selatan. Selain menawarkan dukungan untuk operasi penyelamatan, Korea Selatan juga menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai 1 juta dolar AS atau sekitar Rp17,6 miliar.

Bantuan tersebut ditawarkan setelah bencana besar melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China. Meski demikian, pemerintah Nepal tetap memilih mengandalkan kemampuan pasukan keamanan nasional untuk menangani kondisi darurat di lapangan.

Bencana Terjadi di Perbatasan Nepal-Tibet

Banjir dan longsor terjadi pada Rabu pagi di kawasan perbatasan Nepal dengan Tibet, China. Wilayah yang terdampak berada tidak jauh dari Kathmandu dan mengalami kerusakan parah setelah material lumpur menerjang permukiman warga.

Sejumlah rumah di sekitar lokasi dilaporkan tersapu material banjir dan longsor. Petugas penyelamat hingga kini masih melakukan penyisiran di berbagai titik untuk mencari korban yang belum ditemukan.

Jumlah korban tewas akibat bencana tersebut telah mencapai 469 orang hingga Jumat (28/8/2026). Sementara itu, hampir 1.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus dilakukan oleh tim penyelamat Nepal.

Ratusan Warga Asing Ikut Terdampak

Bencana di kawasan perbatasan tersebut juga berdampak terhadap warga negara asing yang berada di sekitar lokasi. Dari hampir 1.000 orang yang dilaporkan hilang, sekitar 540 orang di antaranya merupakan warga asing.

Mereka berasal dari sejumlah negara, seperti Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan. Kondisi tersebut turut menjadi alasan sejumlah pemerintah asing menawarkan bantuan kepada Nepal untuk mendukung operasi pencarian dan evakuasi.

Meski terdapat banyak warga asing yang terdampak, pemerintah Nepal tetap menyatakan bahwa operasi penyelamatan masih dapat ditangani oleh aparat keamanan dalam negeri. Tim tentara dan polisi Nepal terus dikerahkan untuk menyisir wilayah yang terdampak bencana.

Penyebab Banjir Bandang Masih Diselidiki

Hingga kini, penyebab pasti banjir dan longsor yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet belum dapat dipastikan. Para ahli masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian peristiwa yang menyebabkan bencana tersebut berubah menjadi banjir bandang dengan material lumpur dalam jumlah besar.

Sejumlah ahli menduga bencana dipicu longsoran batu dan bongkahan es dari kawasan pegunungan. Material tersebut diduga bercampur dan mencair sehingga menghasilkan aliran air berlumpur yang bergerak deras menuju kawasan permukiman.

Aliran material tersebut kemudian menerjang wilayah di sekitarnya dan menyebabkan kerusakan besar. Dengan jumlah korban yang terus diperbarui, proses pencarian masih menjadi prioritas utama pemerintah Nepal sembari penyelidikan mengenai penyebab bencana terus berlangsung.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE