Indonesia Punya 127 Gunung Api Aktif, Ini Cara Tetap Aman Kalau Erupsi Datang Mendadak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Indonesia berdiri tepat di atas Cincin Api Pasifik, sebuah zona yang tidak pernah benar-benar tidur karena aktivitas tektonik dan vulkaniknya terus berjalan.
Posisi itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia. Dari sekitar 1.350 gunung api aktif secara global, 127 di antaranya berada di Indonesia.
PVMBG mencatat 69 gunung api dipantau secara khusus, masing-masing dengan tingkat aktivitas yang berbeda. Data terbaru per 27 November 2025 dari platform MAGMA Indonesia menunjukkan 43 gunung berstatus Normal (Level I), 23 berstatus Waspada (Level II), 1 Siaga (Level III), dan 2 berada di level Awas (Level IV). Angka ini menggambarkan bahwa negara ini hidup berdampingan dengan potensi erupsi yang bisa meningkat kapan saja.
Dengan kondisi itu, pengetahuan mengenai mitigasi bencana bukan lagi sekadar informasi tambahan, melainkan bekal yang wajib dimiliki terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan. Regulasi seperti UU No. 24 Tahun 2007 dan PP No. 21 Tahun 2008 menegaskan bahwa mitigasi adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana melalui pembangunan fisik, edukasi, dan peningkatan kesiapsiagaan.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, erupsi merupakan bagian dari proses vulkanik alami yang bisa memberikan dampak luas. Karena itu, upaya mitigasi dibagi menjadi tiga tahapan penting: sebelum, saat, dan setelah erupsi.
Sebelum erupsi, masyarakat dianjurkan untuk terus memantau perkembangan aktivitas gunung api dari PVMBG, memahami jalur evakuasi, dan menyiapkan rencana evakuasi alternatif. Perlengkapan seperti masker, kacamata pelindung, senter, baterai cadangan, makanan siap saji, uang tunai, dokumen penting, dan obat-obatan juga perlu disiapkan sejak awal agar tidak panik saat situasi darurat.
Saat erupsi terjadi, menjauh dari zona rawan menjadi langkah paling utama. Area terbuka, lembah, dan aliran sungai harus dihindari karena rentan dilalui aliran lahar. Masker, kacamata pelindung, dan pakaian tertutup menjadi perlindungan dasar dari abu vulkanik. Penggunaan lensa kontak tidak disarankan karena abu dapat memicu iritasi serius.
Setelah erupsi, masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan. Jika harus keluar, masker dan pelindung tetap wajib digunakan. Berkendara di wilayah penuh abu juga berisiko karena dapat merusak mesin kendaraan. Masyarakat perlu waspada terhadap potensi banjir lahar, terutama pada musim hujan, dan tetap mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.
Dalam situasi pengungsian, ketersediaan kebutuhan dasar menjadi prioritas. Anak-anak dan remaja perlu mendapatkan pendampingan karena bencana sering memengaruhi kondisi emosional mereka. Informasi terbaru dari pemerintah, PVMBG, dan BNPB harus terus dipantau agar masyarakat dapat mengambil keputusan dengan cepat.
Pemahaman mengenai mitigasi dan kesiapan menghadapi bencana menjadi kunci untuk mengurangi risiko. Dengan langkah yang tepat, masyarakat dapat menghadapi potensi erupsi dengan lebih tenang dan terarah. Indonesia mungkin tidak bisa lepas dari aktivitas vulkanik, tetapi kewaspadaan dan persiapan matang menjadi benteng utama untuk tetap aman.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!