Data BPS 2026: Ini 10 Provinsi dengan Pengangguran Tertinggi di Indonesia, Jakarta Urutan Berapa?
Lulusan SMK dan Perguruan Tinggi Mendominasi, Simak Daftar Wilayah dengan Angka Pengangguran Terbanyak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 7,24 juta orang pada periode Februari 2026.
Meski mengalami penurunan sekitar 35 ribu orang dibanding tahun sebelumnya, porsi angkatan kerja yang belum terserap pasar kerja masih menjadi tantangan tersendiri bagi berbagai daerah.
Beberapa wilayah seperti Papua, Kepulauan Riau, hingga Jawa Barat mencatatkan persentase pengangguran tertinggi di Indonesia. Lantas, berada di peringkat berapakah Provinsi DKI Jakarta dalam daftar daerah dengan angka pengangguran terbanyak tahun ini?
Daftar Daerah dan Jenjang Pendidikan dengan Pengangguran Terbanyak
Berdasarkan data resmi BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional berada di angka 4,68 persen, yang mengindikasikan setidaknya ada 4 hingga 5 orang penganggur di setiap 100 orang angkatan kerja.
Berikut adalah rincian provinsi serta latar belakang pendidikan dengan persentase pengangguran tertinggi:
10 Provinsi dengan TPT Tertinggi (Per Februari 2026):
-
Papua: 7,02%
-
Kepulauan Riau: 6,87%
-
Jawa Barat: 6,64%
-
Banten: 6,59%
-
Papua Barat Daya: 6,41%
-
DKI Jakarta: 6,03%
-
Aceh: 5,88%
-
Maluku: 5,80%
-
Sulawesi Utara: 5,75%
-
Sumatera Barat: 5,51%
Provinsi DKI Jakarta menempati urutan ke-6 nasional dengan persentase pengangguran sebesar 6,03%.
Tingkat Pengangguran Berdasarkan Tamatan Pendidikan:
-
SMK: 7,74%
-
SMA: 6,23%
-
Diploma IV, S1, S2, S3: 6,13%
-
Diploma I/II/III: 4,80%
-
SMP: 4,19%
-
SD ke Bawah: 2,32%
Data BPS memperlihatkan tantangan penyerapan tenaga kerja yang masih berpusat pada lulusan pendidikan menengah keatas, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Perguruan Tinggi.
Fakta bahwa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pendidikan tinggi (S1 hingga S3) mendominasi persentase pengangguran menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan nasional. Hal ini mengindikasikan masih adanya jurang pemisah (mismatch) antara kompetensi yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh pasar kerja dan industri saat ini.
Tingginya angka pengangguran di provinsi-provinsi pusat perekonomian seperti Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta menegaskan perlunya penyelarasan (link and match) yang lebih kuat antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri nasional demi menekan angka pengangguran di masa depan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!