Gaji Pemilik Usaha yang Ideal, Simak Cara Tentukan Upah Entrepreneur Biar Bisnis Tetap Cuan dan Nggak Bangkrut!

Gaji Pemilik Usaha yang Ideal, Simak Cara Tentukan Upah Entrepreneur Biar Bisnis Tetap Cuan dan Nggak Bangkrut!
- (Dok. Freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Menjadi seorang bos alias entrepreneur memang terdengar keren dan bebas, tapi urusan dompet sering kali jadi dilema besar yang bikin pusing tujuh keliling. Banyak banget nih pebisnis muda yang terjebak dalam pola pikir kalau semua uang hasil usaha adalah uang pribadi yang bisa dipakai foya-foya kapan saja.

Sebaliknya, ada juga tipe yang terlalu pelit sama diri sendiri sampai nggak mau digaji sama sekali demi alasan memutar modal bisnis. Padahal, menentukan gaji bagi diri sendiri sebagai pemilik usaha adalah langkah krusial yang nggak boleh dilewatkan kalau kamu pengen punya struktur finansial yang sehat dan berkelanjutan. Tanpa gaji yang jelas, kamu bakal susah membedakan mana keuntungan bersih perusahaan dan mana biaya hidup pribadi, yang ujung-ujungnya bisa bikin arus kas alias cash flow bisnis kamu jadi berantakan.

Menggaji diri sendiri bukan soal gaya-gayaan, melainkan cara profesional untuk menghargai waktu, tenaga, dan ide yang sudah kamu tumpahkan buat membangun brand tersebut. Selain itu, dengan adanya pos gaji yang tetap, kamu jadi punya motivasi lebih dan mental yang lebih stabil karena kebutuhan hidupmu sudah terjamin tanpa harus "merampok" uang operasional kantor secara sembunyi-sembunyi, nih Gen.

Dilansir dari Business News Daily, mengatur gaji buat diri sendiri itu ada seninya dan nggak boleh asal tembak angka. Kamu harus melihat kondisi nyata dari bisnismu sebelum memutuskan berapa nominal yang pantas masuk ke kantong pribadimu setiap bulannya, nih Gen.

Tentukan Timing dan Hitung Kebutuhan Hidupmu

Langkah paling awal yang wajib kamu perhatikan adalah soal waktu. Jangan baru buka usaha satu minggu, kamu sudah langsung pengen ambil gaji gede. Pastikan dulu kalau pemasukan bisnismu sudah stabil setiap bulannya. Kamu harus cek apakah keuntungan yang didapat sudah konsisten dalam jangka panjang dan apakah semua biaya operasional sudah tertutupi dengan aman. Kalau semua jawaban dari kondisi keuangan usahamu sudah menunjukkan tren positif, itu tandanya bisnis kamu sudah siap buat "membiayai" hidup pemiliknya secara rutin.

Cara paling gampang buat nentuin angkanya adalah dengan menghitung total pengeluaran pribadi kamu. Coba buat list kebutuhan bulanan, mulai dari biaya makan, cicilan, sampai uang buat tabungan atau investasi. Setelah itu, bandingkan sama kondisi keuangan usaha. Ambillah jumlah yang masuk akal, yang cukup buat kebutuhan kamu tapi nggak sampai bikin bisnis kamu megap-megap buat bayar vendor atau sewa tempat.

Gunakan Persentase Laba dan Pahami Aturan Pajak

Kalau kamu masih ragu pakai angka tetap, kamu bisa pakai sistem persentase dari keuntungan. Banyak entrepreneur sukses yang membatasi gaji mereka maksimal 50% dari laba bersih. Sisanya? Tentu saja diputar lagi buat pengembangan bisnis. Tapi ingat ya, kebutuhan operasional tetap harus jadi nomor satu biar bisnis nggak mandek.

Selain itu, kamu juga harus melek soal pajak. Urusan gaji ini erat banget kaitannya sama laporan pajak tahunan. Kalau usahamu masih berbentuk perseorangan, biasanya seluruh penghasilan bakal dihitung sebagai pendapatan pribadi. Tapi kalau sudah berbentuk korporasi, pengaturan gaji bisa bikin pajak yang kamu bayar jadi lebih efisien karena hanya dihitung berdasarkan gaji tersebut, bukan total pendapatan kotor perusahaan. Sangat disarankan buat ngobrol sama akuntan biar strategi pajaknya nggak salah langkah.

Jangan lupa juga buat selalu mengevaluasi gaji kamu secara berkala. Kalau bisnis makin berkembang pesat dan cuan makin luber, sah-sah saja kalau gaji kamu naik. Tapi sebaliknya, kalau lagi masa sulit, kamu harus rela potong gaji sendiri demi menyelamatkan napas bisnis. Intinya, menggaji diri sendiri itu penting banget buat bikin pencatatan keuangan jadi akurat dan mencerminkan realitas yang ada. Kalau gaji nggak dimasukkan sebagai biaya usaha, kamu bakal susah nentuin harga jual produk atau rencana marketing ke depannya.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE