Isu Sosial Di Balik Film Na Willa Yang Lagi Viral, Karakter Na Willa Hingga Mbak Tin Ternyata Simpan Pesan Rasisme Dan Pernikahan Dini Yang Nyesek
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia perfilman tanah air kembali dibuat terpukau dengan karya terbaru dari sutradara jenius Ryan Adriandhy yang berjudul Na Willa. Setelah sukses besar lewat film Jumbo pada momen Lebaran tahun lalu, kali ini Ryan kembali menggandeng Visinema Studio untuk menghidupkan kisah legendaris dari buku karya Reda Gaudiamo ke layar lebar.
Film ini bukan sekadar tontonan anak-anak biasa yang penuh warna dan keceriaan, melainkan sebuah perjalanan emosional yang memotret kehidupan seorang bocah perempuan bernama Na Willa di daerah Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an.
Tinggal bersama sang ibu yang dipanggil Mak dan ayahnya yang dipanggil Pak, keseharian Willa sebenarnya terlihat sangat polos dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap. Namun, di balik pertanyaan-pertanyaan lugu dan imajinasi masa kecilnya yang ajaib, film ini secara berani menyelipkan kritik sosial yang sangat tajam dan masih relevan sampai detik ini.
Lewat sudut pandang anak kecil, kita diajak untuk melihat betapa kerasnya realita dunia yang terkadang tidak ramah bagi mereka yang berbeda. Penonton bakal dibuat tertawa sekaligus nyesek saat menyadari bahwa isu-isu berat seperti diskriminasi dan nasib penyandang disabilitas sudah mulai terekam sejak usia dini dalam lingkungan sosial kita nih Gen.
Salah satu poin paling kuat dalam film ini adalah bagaimana karakter utama, Na Willa, menjadi cermin bagi isu rasisme yang masih menghantui Indonesia. Sebagai anak keturunan Tionghoa-Ambon, Willa harus menghadapi kenyataan pahit saat mulai bersekolah.
Lingkungan pendidikannya ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Willa menerima perlakuan diskriminatif mulai dari gurunya sendiri yang melabelinya pembohong, hingga teman-temannya yang tega mengejek dan melakukan kekerasan fisik seperti menjambak rambutnya sambil melontarkan kata-kata kasar. Adegan ini menjadi pengingat bahwa bibit kebencian rasial sering kali muncul karena kegagalan orang dewasa dalam mendidik karakter anak-anak mereka.
Selain rasisme, ada juga karakter Dul yang merepresentasikan perjuangan anak dengan disabilitas. Dul digambarkan sebagai bocah yang penuh semangat dan hobi mengejar kereta api. Sayangnya, sebuah kecelakaan tragis di dekat stasiun membuat Dul harus kehilangan fungsi kakinya dan terpaksa menggunakan kaki palsu dari kayu.
Kisah Dul ini menggambarkan betapa rentannya anak-anak terhadap kecelakaan dan bagaimana kehidupan mereka berubah drastis setelah kehilangan kemampuan fisik yang sempurna.
Tak berhenti di situ, film Na Willa juga menyoroti isu pernikahan dini lewat karakter Martini atau Mbak Tin, kakak dari teman Willa yang bernama Farida. Dalam sebuah adegan yang terlihat polos namun menyayat hati, Farida menceritakan rencana pernikahan kakaknya sambil menikmati kue cucur.
Di saat yang sama, Mbak Tin justru menangis tersedu-sedu karena harus menjalani pernikahan di usia yang masih sangat remaja tanpa bisa menolak. Bagi anak-anak seperti Willa dan Farida, tangisan itu dianggap biasa, padahal itu adalah potret ketidakbahagiaan seorang perempuan yang hak masa mudanya terenggut oleh tradisi pernikahan dini yang dianggap lazim pada masa itu.
Film ini benar-benar berhasil membungkus isu-isu berat tersebut menjadi sebuah tontonan keluarga yang edukatif tanpa terkesan menggurui. Na Willa membuktikan bahwa cerita anak-anak pun bisa menjadi media yang kuat untuk menyuarakan perubahan sosial yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!