Kanker Paru Bisa Menyerang Nonperokok, Kenali Pentingnya Skrining Sejak Dini
Kasus kanker paru pada nonperokok juga menjadi perhatian. Kenali faktor risiko, kriteria skrining, dan alasan deteksi dini penting
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kanker paru merupakan salah satu penyakit serius yang kerap baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, deteksi dini dapat membantu menemukan sel kanker sebelum menyebar dan membuka peluang penanganan yang lebih baik.
Menurut ahli onkologi medis toraks di Sylvester Comprehensive Cancer Center, bagian dari University of Miami Health System, Amerika Serikat, Coral Olazagasti, M.D., skrining menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi kanker paru lebih awal. Ia menjelaskan bahwa tingkat kelangsungan hidup pasien masih menjadi tantangan karena banyak kasus ditemukan ketika pilihan pengobatan sudah terbatas.
"Walau pengobatan medis semakin maju, rata-rata hanya 29 persen pasien yang mampu bertahan hidup hingga lima tahun," ujar Olazagasti, seperti dikutip dari Prevention, Jumat (23/10/2026).
Ia menambahkan bahwa banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah kanker berkembang ke stadium lanjut. Kondisi tersebut dapat mempersempit pilihan pengobatan dan mengurangi peluang keberhasilan terapi.
Siapa yang Dianjurkan Menjalani Skrining Kanker Paru?
American Cancer Society (ACS) menjelaskan bahwa skrining kanker paru dapat membantu menemukan kanker sebelum gejala muncul. Namun, pemeriksaan ini tidak ditujukan untuk semua orang karena rekomendasinya mempertimbangkan usia dan riwayat merokok.
ACS merekomendasikan pemeriksaan CT dosis rendah setiap tahun bagi orang berusia 50-80 tahun yang masih merokok atau pernah merokok, dengan riwayat merokok minimal 20 pack-years. Angka tersebut setara dengan kebiasaan merokok satu bungkus sehari selama 20 tahun atau dua bungkus sehari selama 10 tahun.
Sementara itu, U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menyebutkan skrining dapat dihentikan apabila seseorang telah berhenti merokok selama 15 tahun, mengalami masalah kesehatan berat yang membatasi harapan hidup, atau tidak mampu menjalani operasi paru jika diperlukan. Keputusan untuk menjalani atau menghentikan pemeriksaan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan berdasarkan kondisi masing-masing.
Meski merokok menjadi salah satu faktor risiko utama, paparan asap rokok dari orang lain juga dapat meningkatkan risiko kanker paru. Faktor lain yang perlu diperhatikan meliputi paparan asbes, gas radon, dan polusi udara.
Mengapa Banyak Orang Melewatkan Skrining?
Salah satu tantangan dalam pencegahan kanker paru adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan dini. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA menemukan bahwa sekitar 19 persen orang di Amerika Serikat yang memenuhi kriteria justru tidak menjalani skrining.
Padahal, peningkatan partisipasi skrining pada kelompok berisiko berpotensi mencegah banyak kematian akibat kanker paru. Hambatan yang muncul antara lain kurangnya kesadaran, terbatasnya edukasi, serta kekhawatiran terhadap hasil pemeriksaan.
Dokter paru dan perawatan kritis di The Ohio State University Wexner Medical Center, Jasleen Pannu, M.B.B.S., menilai minimnya pemahaman masyarakat menjadi salah satu penyebab orang tidak menjalani skrining. Sementara itu, ahli bedah toraks di MemorialCare Todd Cancer Institute, Long Beach Medical Center, Matthew Stanley, M.D., menekankan pentingnya edukasi untuk menjangkau lebih banyak orang yang memenuhi kriteria pemeriksaan.
"Langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyadarkan kelompok yang wajib menjalani skrining dan meningkatkan angka partisipasi. Hal itu akan menyelamatkan nyawa yang tak terhitung jumlahnya setiap tahun," jelas Stanley.
Selain kurangnya informasi, stigma terhadap kebiasaan merokok juga dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri. Pannu mengingatkan bahwa menyalahkan pasien karena pernah merokok bukanlah pendekatan yang tepat dalam menghadapi penyakit ini.
"Kita tidak seharusnya berpikiran begitu. Tidak ada seorang pun yang pantas terkena kanker paru," tegas Pannu.
Ketakutan terhadap diagnosis kanker juga dapat membuat sebagian orang menunda pemeriksaan. Padahal, kanker paru yang ditemukan pada tahap awal dapat ditangani, sehingga pemeriksaan sesuai rekomendasi medis menjadi hal yang penting bagi kelompok berisiko.
Apakah Nonperokok Juga Bisa Terkena Kanker Paru?
Kanker paru tidak hanya menyerang orang yang memiliki riwayat merokok. Data yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa sekitar seperempat kasus kanker paru di seluruh dunia terjadi pada orang yang tidak pernah merokok.
Meski demikian, hingga kini belum ada rekomendasi skrining rutin secara luas bagi kelompok nonperokok yang tidak memiliki faktor risiko khusus. Menurut Pannu, risiko pada kelompok ini secara statistik lebih rendah sehingga pemeriksaan perlu mempertimbangkan kondisi dan paparan yang dialami setiap individu.
Orang yang memiliki kekhawatiran tertentu dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendiskusikan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan. Riwayat paparan gas radon atau faktor risiko lingkungan lainnya dapat menjadi informasi yang perlu disampaikan saat berkonsultasi.
Jangan Abaikan Gejala yang Mencurigakan
Selain skrining bagi kelompok yang memenuhi kriteria, masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh yang tidak biasa. Jika mengalami gejala yang menetap atau mengkhawatirkan, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diperiksa.
Olazagasti mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kekhawatiran terhadap kondisi tubuh sendiri. Pemeriksaan medis dapat membantu menentukan langkah selanjutnya berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko yang dimiliki.
"Kamu lebih tahu kondisi tubuhmu sendiri daripada orang lain. Jika dirasa ada sesuatu yang tidak beres, jangan ragu untuk bersuara dan perjuangkan kesehatanmu," pungkas Olazagasti.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!