Sejarah Maulid Nabi yang Jarang Dibahas, Benarkah Tradisinya Baru Muncul Berabad-abad Kemudian?

Sejarah Maulid Nabi yang Jarang Dibahas, Benarkah Tradisinya Baru Muncul Berabad-abad Kemudian?
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Perayaan Maulid Nabi menjadi salah satu tradisi yang dilakukan umat Islam di berbagai daerah untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Namun, asal-usul tradisi tersebut juga menjadi pembahasan di kalangan ulama dan sejarawan. Salah satu pandangan mengenai sejarahnya disampaikan dalam artikel Rumaysho berjudul "Sejarah Kelam Maulid Nabi" yang ditulis Muhammad Abduh Tuasikal pada 2010.

Dalam artikel tersebut, Rumaysho menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan dalam catatan sejarah pada masa sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, maupun masa empat imam mazhab, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad. Penulis artikel menjadikan hal tersebut sebagai salah satu dasar pandangannya terhadap sejarah perayaan Maulid.

Artikel itu kemudian menyebut Dinasti Ubaidiyyun atau Fatimiyyun sebagai pihak yang dianggap pertama kali mempelopori perayaan Maulid Nabi. Klaim tersebut merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang dikutip penulis, termasuk karya Al-Maqrizi serta beberapa kitab yang membahas sejarah munculnya perayaan Maulid.

Menurut kutipan Al-Maqrizi yang dicantumkan Rumaysho, pemerintahan Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Selain Maulid Nabi, terdapat pula perayaan yang dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain, serta khalifah yang sedang berkuasa. Dalam daftar tersebut juga disebut berbagai perayaan lain yang berasal dari tradisi berbeda.

Rumaysho juga mengutip Syaikh Bakhit Al-Muti'i yang menyebut enam perayaan Maulid pertama kali diselenggarakan pada masa Al-Mu'izh Lidinillah dari Dinasti Fatimiyyun sekitar 362 Hijriah. Pendapat serupa, menurut artikel tersebut, juga dikaitkan dengan Ali Mahfuzh dan Ali Fikriy.

Pembahasan kemudian beralih pada identitas Dinasti Fatimiyyun. Dalam artikel tersebut, penulis menyampaikan kritik keras terhadap dinasti tersebut dengan mengutip sejumlah ulama yang menilai terdapat penyimpangan dalam aspek akidah dan praktik keagamaan mereka. Pandangan tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk memberikan penilaian negatif terhadap asal-usul perayaan Maulid yang dikaitkan dengan dinasti tersebut.

Artikel tersebut juga membahas klaim nasab Dinasti Fatimiyyun yang disebut menghubungkan mereka dengan Fatimah az-Zahra. Rumaysho mengutip pendapat sejumlah ulama dan ahli nasab yang mempertanyakan atau menolak klaim tersebut. Karena itu, artikel menggunakan istilah Ubaidiyyun dan Fatimiyyun secara berdampingan dalam pembahasannya.

Lebih lanjut, Rumaysho menyebut bahwa Dinasti Fatimiyyun memiliki banyak perayaan dalam satu tahun. Penulis mengutip Al-Maqrizi yang mencatat sekitar 25 perayaan, termasuk sejumlah perayaan yang menurut artikel berkaitan dengan tradisi Persia dan Kristen. Dari sini, penulis kemudian menyimpulkan bahwa perayaan Maulid yang muncul pada masa tersebut memiliki latar belakang politik dan keagamaan tertentu.

Berdasarkan sudut pandang artikel tersebut, Maulid Nabi dipandang sebagai tradisi yang tidak memiliki contoh dari generasi awal Islam. Rumaysho menyimpulkan bahwa perayaan tersebut baru muncul pada masa Dinasti Fatimiyyun sekitar abad ketiga Hijriah dan kemudian berkembang dalam sejarah Islam.

Namun, penting dicatat bahwa uraian di atas merupakan pandangan dan argumentasi yang disampaikan dalam artikel Rumaysho, bukan satu-satunya versi historiografi mengenai asal-usul Maulid Nabi. Bahkan dalam artikel Rumaysho lainnya mengenai Maulid, disebutkan pula bahwa tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW secara tepat juga tidak dapat dipastikan, meskipun hari kelahirannya disebut Senin.

Dengan demikian, pembahasan mengenai sejarah Maulid Nabi tidak hanya berkaitan dengan kapan tradisi tersebut mulai dilakukan, tetapi juga menyangkut bagaimana para ulama memandang praktik tersebut. Artikel Rumaysho mengambil posisi yang menolak perayaan Maulid dan menjadikan ketiadaan praktik tersebut pada generasi awal Islam serta kemunculannya pada masa Fatimiyyun sebagai bagian utama argumentasinya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE