JAKARTA, GENVOICE.ID - Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri kedai kopi di Indonesia, tren kopitiam muncul sebagai salah satu konsep yang semakin mencuri perhatian.
Hingga November 2025, jumlah kedai kopi di Indonesia telah melampaui 461 ribu unit, mencakup kafe modern, kedai tradisional, hingga warung kopi. Angka ini menjadi bukti kuat bahwa budaya "ngopi" bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari gaya hidup masyarakat.
Di tengah ekspansi tersebut, kopitiam hadir sebagai sub-segmen yang berkembang cepat, terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Medan. Konsep ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari coffee shop pada umumnya, lebih sederhana, lebih familiar, tetapi tetap memiliki karakter rasa yang kuat.
Berakar dari budaya Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Singapura sejak awal abad ke-20, kopitiam kini menemukan momentumnya di Indonesia. Menu yang ditawarkan pun terasa dekat di lidah, mulai dari kopi tarik, teh tarik, hingga kudapan seperti kaya toast. Perpaduan ini menciptakan pengalaman yang bukan hanya soal rasa, tetapi juga nostalgia.
Coffee Enthusiast sekaligus Runner-up Asian FBC Singapore 2012, Doddy Samsura, melihat fenomena ini sebagai respons terhadap perubahan selera konsumen. Menurutnya, masyarakat kini cenderung mencari minuman yang lebih mudah dinikmati, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa. Faktor kedekatan rasa juga menjadi kunci, karena profil minuman kopitiam dinilai lebih sesuai dengan preferensi lokal.
Berbeda dengan specialty coffee yang menonjolkan asal biji dan teknik seduh, kopitiam justru menekankan pada blending dan konsistensi. Di situlah tantangannya, tentang bagaimana menjaga rasa tetap stabil dan bisa diterima oleh berbagai kalangan.
Di sisi lain, posisi kopitiam di antara kopi tradisional dan kafe modern menjadi keunggulan tersendiri. Konsep ini terasa akrab, tetapi tetap menawarkan identitas yang kuat. Tak heran jika banyak pelaku usaha mulai meliriknya sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.
Salah satu brand yang turut mendorong perkembangan ini adalah Dairy Champ. Berasal dari Malaysia, produk ini telah lama digunakan di berbagai kopitiam dan dikenal memiliki profil rasa yang konsisten. Di Indonesia, Dairy Champ semakin banyak diaplikasikan dalam berbagai minuman dan dessert bergaya kopitiam, menghadirkan tekstur creamy yang lembut serta keseimbangan rasa yang stabil.
Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, menilai bahwa meskipun tren kopitiam berkembang pesat, masih ada tantangan besar terkait autentisitas rasa. Banyak menu terlihat serupa, namun belum mampu menghadirkan pengalaman khas seperti di negara asalnya. Ia menekankan bahwa ke depan, konsistensi dan karakter rasa, mulai dari tekstur hingga keseimbangan akan menjadi faktor penentu daya saing.
Tak hanya soal rasa, aspek visual juga semakin penting. Tren minuman yang "social media friendly" mendorong pelaku usaha untuk memperhatikan tampilan sebagai bagian dari pengalaman konsumen. Minuman dengan tekstur creamy dan tampilan menarik dinilai mampu memperkuat storytelling sekaligus meningkatkan daya tarik di mata konsumen.
Melihat perkembangan ini, kopitiam diprediksi akan terus tumbuh seiring meningkatnya minat terhadap konsep yang menggabungkan heritage dan gaya hidup modern. Dengan diferensiasi yang kuat dari sisi rasa dan pengalaman, kopitiam bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan calon pemain besar dalam industri kafe Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!